Bank Indonesia (BI) menyoroti risiko global yang dapat memengaruhi perekonomian Indonesia, seiring fragmentasi perdagangan dan volatilitas pasar keuangan internasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik. BI menilai dampak tersebut berpotensi masuk ke ekonomi domestik melalui tiga jalur utama.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan, jalur pertama berkaitan dengan potensi kenaikan harga minyak. Kondisi ini dapat mendorong peningkatan biaya transportasi dan produksi, termasuk pada sektor pangan, sehingga memicu tekanan inflasi.
Jalur kedua, menurut Aida, adalah gejolak pasar keuangan yang dapat memengaruhi nilai tukar. Perubahan nilai tukar selanjutnya berimbas pada harga barang impor dan stabilitas harga di dalam negeri.
Adapun jalur ketiga adalah perlambatan perdagangan global yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Dampak lanjutan dari pelemahan pertumbuhan tersebut dapat memengaruhi dinamika permintaan dan inflasi.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, BI menerapkan strategi 3K, yakni kebijakan terintegrasi, kolaborasi erat dengan pemerintah, serta komitmen untuk terus hadir di pasar guna meredam gejolak dan menjaga inflasi tetap sesuai target yang telah ditetapkan.

