Bank Indonesia (BI) melakukan stress test untuk menguji ketahanan perbankan dalam menghadapi berbagai risiko yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Iran. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, hasil pengujian tersebut menunjukkan ketahanan perbankan nasional tetap kuat, termasuk dalam menghadapi dampak rambatan gejolak global dari konflik di Timur Tengah.
“Ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga,” kata Perry dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Selain menjaga stabilitas sistem keuangan, BI juga melanjutkan penguatan dukungan likuiditas melalui kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga minggu pertama April 2026, total insentif yang telah disalurkan mencapai Rp427,9 triliun. Kebijakan ini diperkuat sejak 16 Desember 2025 untuk mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.
Perry menjelaskan, penyaluran KLM dilakukan melalui dua jalur utama, yaitu penyaluran kredit ke sektor tertentu (lending channel) serta insentif bagi bank yang responsif menurunkan suku bunga kredit baru (interest rate channel). “Insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama April 2026 tercatat sebesar Rp427,9 triliun dengan alokasi pada lending channel sebesar Rp358,0 triliun serta interest rate channel sebesar Rp69,9 triliun,” ujarnya.
Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan kepada bank BUMN sebesar Rp224,0 triliun, bank swasta nasional (BUSN) Rp166,6 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp29,6 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,8 triliun.
Secara sektoral, insentif tersebut mengalir ke sektor-sektor prioritas, mencakup pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate dan perumahan, serta UMKM, koperasi, inklusi, dan sektor berkelanjutan.