CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan potensi terjadinya krisis di pasar obligasi seiring meningkatnya utang pemerintah global. Ia meminta para pembuat kebijakan mengambil langkah pencegahan sebelum tekanan pasar memaksa penyesuaian yang lebih berat.
Seperti dikutip CNBC, pernyataan itu disampaikan Dimon dalam 2026 Investment Conference yang digelar sovereign wealth fund (SWF) Norwegia, Norges Bank Investment Management (NBIM). Dalam forum tersebut, Dimon memproyeksikan akan terjadi “semacam krisis obligasi” seiring lonjakan utang global. “Dan kita harus menghadapinya,” ujarnya.
Dimon menegaskan ia tidak meragukan krisis dapat diatasi, namun menilai pencegahan lebih bijaksana ketimbang menunggu situasi memburuk. “Aku hanya berpikir hal yang bijaksana adalah kita harus mengatasinya, bukan membiarkannya terjadi,” katanya.
Ia menyoroti akumulasi risiko yang menurutnya terus meningkat, mulai dari geopolitik, harga minyak, hingga defisit anggaran pemerintah. Kombinasi faktor tersebut dinilai dapat memicu gejolak yang sulit diprediksi waktunya. “Berbagai faktor risiko itu mungkin akan hilang, tetapi mungkin juga tidak, dan kita tidak tahu rangkaian peristiwa apa yang memicu krisis tersebut,” ujar Dimon.
Menurut Dimon, krisis obligasi dapat ditandai oleh lonjakan imbal hasil dan menurunnya likuiditas pasar. Dalam kondisi seperti itu, bank sentral umumnya terdorong turun tangan sebagai pembeli terakhir, seperti yang terjadi di Inggris pada 2022 ketika Bank of England melakukan intervensi di pasar obligasi.
Dalam wawancara yang sama, Dimon juga menyinggung risiko siklus kredit. Ia menilai kredit swasta sekitar US$1,7 triliun belum menjadi ancaman sistemik. Namun, ia mengingatkan perlambatan serentak di berbagai sektor pinjaman dapat menimbulkan dampak lebih berat dari yang diperkirakan. “Kita sudah lama tidak mengalami resesi kredit, jadi ketika kita mengalaminya, itu akan lebih buruk dari yang orang kira,” katanya. “Mungkin akan mengerikan.”
Di sisi lain, laporan Institute of International Finance (IIF) yang dikutip Reuters mencatat utang global mencapai rekor US$348 triliun pada akhir 2025, setelah bertambah hampir US$29 triliun dalam setahun. Kenaikan tersebut terutama didorong belanja pemerintah yang menyumbang lebih dari US$10 triliun, dengan Amerika Serikat, China, dan Eropa berkontribusi sekitar tiga perempat dari total lonjakan.
Laporan Global Debt Monitor IIF juga menunjukkan pergeseran struktur utang dari sektor swasta ke sektor publik akibat defisit fiskal yang persisten. Pasar obligasi menyerap penerbitan utang dalam jumlah besar sejak awal tahun.
Jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB), rasio utang global turun tipis menjadi sekitar 308% pada 2025, terutama dipengaruhi negara maju. Namun, rasio utang negara berkembang terus meningkat dan menembus rekor di atas 235% PDB.
Total utang di negara maju mencapai US$231,7 triliun, sedangkan negara berkembang menyentuh US$116,6 triliun, keduanya mencatat rekor baru. IIF menilai perpaduan ekspansi fiskal, kebijakan moneter yang akomodatif, dan penyederhanaan regulasi dapat mendorong akumulasi utang lebih lanjut sekaligus meningkatkan kekhawatiran terkait leverage dan potensi overheating di sejumlah segmen pasar.
Dari sisi komposisi, utang pemerintah global tercatat sekitar US$106,7 triliun, naik dari US$96,3 triliun pada 2024. Utang korporasi non-keuangan berada di US$100,6 triliun, sementara utang rumah tangga meningkat menjadi US$64,6 triliun. Peningkatan porsi utang pemerintah dinilai membuat neraca global makin sensitif terhadap perubahan suku bunga dan kepercayaan investor.
IIF mencatat penerbitan obligasi pemerintah melonjak pada awal tahun seiring kebutuhan pembiayaan anggaran. Aktivitas penerbitan juga tetap kuat di sektor korporasi, termasuk obligasi berperingkat investment grade di Amerika Serikat. Dalam laporannya, IIF menyebut kondisi keuangan yang lebih mudah seharusnya mendukung mobilisasi modal untuk prioritas nasional, termasuk pembiayaan pertahanan.
Laporan tersebut juga menilai pendanaan yang longgar dan minat risiko yang tinggi mendorong penerbitan obligasi berimbal hasil tinggi, pinjaman leveraged, hingga IPO. Ke depan, utang global diperkirakan tetap tinggi pada 2026, terutama jika defisit fiskal tidak menyempit dan perusahaan terus mengandalkan pasar obligasi untuk pendanaan.
International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sekitar 3,3% pada 2026, namun laju ini dinilai belum cukup kuat untuk menurunkan rasio utang secara signifikan. IIF juga mencatat negara berkembang menghadapi jatuh tempo utang lebih dari US$9 triliun pada 2026, sementara negara maju lebih dari US$20 triliun, yang menambah risiko di tengah tingginya level utang global.