Penjualan global Toyota pada Maret 2026 tercatat menurun, dipengaruhi melemahnya pasar Timur Tengah di tengah konflik geopolitik serta tersendatnya distribusi Toyota RAV4. Kondisi tersebut memperpanjang tren penurunan penjualan yang telah berlangsung selama dua bulan berturut-turut.
Toyota Motor Corp menyampaikan bahwa permintaan di kawasan Timur Tengah menyusut signifikan akibat ketidakstabilan yang masih berlangsung. Kawasan ini selama ini menjadi salah satu pasar penting bagi produsen otomotif asal Jepang tersebut.
Selain faktor geopolitik, pelemahan daya beli konsumen dan gangguan jalur distribusi di sejumlah negara turut menekan volume penjualan Toyota pada kuartal pertama 2026.
Tekanan juga datang dari sisi pasokan, terutama terkait transisi produksi untuk SUV andalan Toyota, RAV4. Proses pergantian model generasi terbaru membuat distribusi unit ke berbagai pasar belum kembali normal.
Perusahaan menegaskan penurunan penjualan RAV4 lebih dipicu keterbatasan pasokan dibandingkan melemahnya permintaan. Artinya, minat konsumen terhadap model tersebut disebut masih tetap tinggi.
Dampak gangguan suplai terlihat paling jelas di Amerika Serikat, salah satu pasar terbesar Toyota. Penjualan RAV4 di negara itu tercatat turun cukup dalam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga kontribusinya terhadap total penjualan global ikut berkurang.
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, sejumlah analis menilai penurunan ini belum mencerminkan pelemahan fundamental bisnis Toyota. Permintaan terhadap lini produk hybrid dan SUV perusahaan dinilai masih kuat di berbagai pasar.
Jika kondisi geopolitik di Timur Tengah membaik dan suplai RAV4 kembali stabil, Toyota diperkirakan berpeluang memulihkan penjualan global pada paruh kedua 2026. Namun, tantangan eksternal dan hambatan rantai pasok masih menjadi risiko utama sepanjang tahun ini.