Pusat Manajemen Krisis mengumumkan rilis global buku Reputational Security, karya perdana ahli strategi krisis Nordin Abdullah. Buku tersebut kini tersedia melalui Amazon dan Kindle.
Berangkat dari persimpangan isu kepemimpinan krisis, risiko geopolitik, dan keamanan di era informasi, buku ini memperkenalkan kerangka strategis bagi para pemimpin yang menghadapi lingkungan dengan tingkat kepercayaan yang rapuh, rantai pasokan yang terbuka, serta ancaman reputasi yang kian dimanfaatkan oleh aktor negara maupun non-negara.
Dalam konteks ketegangan geopolitik yang bergerak cepat di Asia dan wilayah lain—mulai dari perselisihan teritorial, penataan ekonomi, hingga kampanye pengaruh politik—Nordin menilai reputasi telah menjadi aset keamanan yang krusial. Menurutnya, reputasi berperan penting bagi stabilitas organisasi dan ketahanan nasional.
Nordin menyoroti bahwa korporasi kini menghadapi paparan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak hanya berupa gangguan operasional, tetapi juga serangan reputasi terkoordinasi yang ditujukan untuk mendestabilisasi industri, mengikis kepercayaan pemangku kepentingan, dan merusak integritas rantai pasokan penting.
“Jika kamu bisa membangunnya, kamu juga bisa menghancurkannya,” ujar Nordin. Ia menekankan rantai pasokan, terutama di sektor energi, pangan, perawatan kesehatan, teknologi, dan infrastruktur, semakin rentan terhadap kampanye disinformasi yang dirancang untuk memicu ketidakpercayaan publik, kecemasan investor, atau tekanan politik.
Ia menjelaskan, narasi menyesatkan dapat menghentikan produksi, menghambat akses pasar, atau memecah kemitraan, bahkan tanpa adanya kegagalan operasional yang nyata. Bagi para pemimpin, ia menyebut “penglihatan reputasi” sebagai kewajiban strategis di tengah urgensi situasi saat ini.
Melalui Reputational Security, Nordin juga mengulas bagaimana pemerintah di berbagai level—lokal, negara bagian, dan nasional—perlu membangun narasi yang sehat, stabil, dan menumbuhkan kepercayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, stabilitas masyarakat, serta keyakinan investor. Ia menegaskan pentingnya ekosistem komunikasi yang konsisten dan kredibel bagi ketahanan nasional, terutama ketika pihak lawan mengeksploitasi ruang informasi untuk memicu perpecahan sosial, melemahkan institusi, atau mempolarisasi sentimen publik.
Nordin menyatakan ketahanan krisis perlu diangkat dari fungsi reaktif menjadi disiplin yang lebih preventif. Menurutnya, langkah tersebut dapat mengurangi tingkat keparahan dan dampak jangka panjang dari guncangan reputasi. Ia menegaskan kesiapan krisis yang sesungguhnya dimulai jauh sebelum peristiwa pemicu terjadi.
Buku ini menyoroti struktur yang perlu dibangun pemimpin untuk memastikan pengambilan keputusan cepat, koordinasi antar-lembaga, komunikasi transparan, serta kelangsungan operasional dapat berjalan. Mengacu pada pengalaman lebih dari 30 tahun di Asia, Nordin menyajikan model holistik yang menggabungkan analisis intelijen, kesadaran geopolitik, ilmu perilaku, prinsip keamanan siber, nuansa budaya, dan arsitektur media.
Tujuan pendekatan tersebut, menurut Nordin, adalah membekali pemimpin dengan alat dan titik awal strategis untuk mengantisipasi, mengurangi, dan pulih dari kerusakan reputasi dalam lingkungan informasi yang dipercepat oleh AI. “Persepsi bergerak lebih cepat daripada fakta, dan kampanye pengaruh memiliki konsekuensi nyata di dunia,” katanya.
Dalam penerbitan buku ini, Nordin menyampaikan apresiasi kepada Natasha Williams dari Dazed Designs atas kontribusi desain yang membentuk identitas profesional buku tersebut. Ia juga berterima kasih kepada tim Pusat Manajemen Krisis atas kontribusi mereka, serta menyampaikan penghargaan kepada ibunya yang disebutnya memberi dorongan untuk menyelesaikan buku.
Nordin Abdullah dikenal sebagai praktisi manajemen krisis dan reputasi dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, memberi nasihat kepada perusahaan, lembaga pemerintah, dan pemimpin komunitas di kawasan Indo-Pasifik. Ia disebut telah membimbing klien menghadapi serangan bermotif politik, ancaman siber, kampanye pengaruh, dan defisit kepercayaan yang dipicu komunitas.
Reputational Security menjadi buku pertama dalam Seri Manajemen Krisis Strategis Nordin Abdullah. Di dalamnya, ia menguraikan bagaimana disinformasi tidak hanya mengubah aturan komunikasi strategis, tetapi juga mengubah lanskap risiko global. “Kita memiliki segala jenis keamanan, mulai dari keamanan perbatasan hingga keamanan siber, tetapi satu hal yang paling dijaga orang adalah reputasi mereka sendiri, yang merupakan celah besar. Itu harus diamankan dan dipahami sebagai aset yang selalu terancam,” kata Nordin.
Buku berikutnya dalam seri tersebut, berjudul Cognitive Influence and Corporate Warfare, disebut akan mengkaji penggunaan taktik zona abu-abu untuk menargetkan perusahaan, mendestabilisasi tim kepemimpinan, mengganggu pasar regional, dan memengaruhi lingkungan politik tempat bisnis beroperasi.

