BERITA TERKINI
Daftar 12 Negara yang Dinilai Paling Aman Jika Perang Dunia Pecah, Berdasarkan Analisis dan Indeks Perdamaian

Daftar 12 Negara yang Dinilai Paling Aman Jika Perang Dunia Pecah, Berdasarkan Analisis dan Indeks Perdamaian

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur mendorong sejumlah analis pertahanan dan pengamat perdamaian global memetakan wilayah yang dinilai relatif paling aman jika terjadi perang berskala besar. Dalam sejumlah kajian yang merujuk pada Global Peace Index (GPI) serta analisis media internasional, faktor yang kerap disebut menentukan tingkat keamanan adalah isolasi geografis, kemandirian pangan, dan netralitas politik.

Berikut 12 negara yang dinilai paling aman untuk berlindung apabila perang dunia pecah, dengan alasan utama yang sering dikemukakan dalam berbagai analisis tersebut.

1. Islandia (Peringkat 1 GPI)
Islandia secara konsisten berada di posisi teratas negara paling damai. Letaknya yang terpencil di Atlantik Utara dan jauh dari pangkalan militer utama membuatnya dinilai bukan target strategis dalam konflik besar.

2. Selandia Baru
Selandia Baru kerap disebut sebagai “sekoci dunia.” Faktor yang disorot antara lain bentang pegunungan yang luas, kemandirian energi terbarukan, serta kapasitas produksi pangan yang besar, terutama dari sektor susu dan daging, sehingga dianggap mampu bertahan meski perdagangan global terganggu.

3. Swiss
Swiss dikenal dengan tradisi netralitas politik. Perlindungan geografis dari Pegunungan Alpen ditambah infrastruktur pertahanan sipil—termasuk keberadaan bunker nuklir—membuat negara ini kerap masuk dalam daftar wilayah yang dianggap aman.

4. Bhutan
Bhutan berada di kawasan pegunungan Himalaya dan dikenal relatif tertutup serta netral. Medan yang ekstrem dinilai menyulitkan invasi, sementara pendekatan kebijakan yang menjauh dari aliansi militer global kerap disebut sebagai faktor tambahan.

5. Fiji
Fiji terletak ribuan kilometer dari daratan utama di Samudra Pasifik. Dengan sumber daya perikanan dan lahan pertanian yang subur, negara ini dipandang memiliki peluang lebih besar untuk luput dari kepentingan strategis kekuatan besar.

6. Indonesia
Indonesia disebut masuk daftar karena prinsip politik luar negeri “Bebas dan Aktif.” Dalam salah satu laporan analisis, posisi Indonesia dinilai konsisten netral serta memiliki ketahanan pangan yang ditopang sektor agraris untuk menghadapi kemungkinan isolasi internasional jangka panjang.

7. Argentina
Argentina disebut dalam studi yang menilai negara ini berpeluang lebih baik menghadapi skenario “musim dingin nuklir.” Lahan yang subur untuk tanaman tahan cuaca seperti gandum serta sebaran populasi yang jauh dari target militer global menjadi alasan yang dikemukakan.

8. Chile
Chile, dengan garis pantai yang sangat panjang dan diapit Pegunungan Andes, dinilai memiliki perlindungan alami. Negara ini juga disebut memiliki akses ke sumber daya alam serta infrastruktur yang modern di belahan bumi selatan.

9. Tuvalu
Negara kecil di Pasifik ini hampir tidak memiliki infrastruktur militer maupun sumber daya alam yang diperebutkan. Dengan populasi sekitar 11.000 jiwa, Tuvalu dinilai berpotensi diabaikan oleh pihak yang berperang.

10. Afrika Selatan
Afrika Selatan berada di ujung selatan benua Afrika. Keunggulan yang disebut mencakup kemandirian pangan dan ketersediaan air bersih, serta infrastruktur transportasi yang dinilai dapat mendukung logistik darurat.

11. Irlandia
Meski berada dekat Eropa, Irlandia bukan anggota NATO dan memiliki sejarah panjang netralitas militer. Sektor pertanian yang kuat juga disebut sebagai penopang kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

12. Greenland
Greenland secara politik terkait dengan Denmark, namun dinilai sangat terisolasi, luas, dan tidak memiliki target militer yang signifikan. Iklim yang keras juga kerap disebut sebagai penghalang alami terhadap invasi darat.

Seorang analis pertahanan, dikutip dalam laporan BBC, menekankan bahwa ukuran keselamatan dalam perang modern tidak semata ditentukan oleh kekuatan militer. “Kunci keselamatan di masa perang bukan lagi tentang kekuatan militer, melainkan tentang seberapa jauh Anda dari titik ledak dan seberapa mandiri negara tersebut dalam memproduksi makanan sendiri,” ujarnya.

Situasi global disebut terus berkembang seiring dinamika politik di Washington dan Teheran. Para ahli juga mengimbau masyarakat internasional untuk tetap tenang, namun waspada terhadap perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi eskalasi konflik.