Tren penurunan suku bunga global dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter secara bertahap. Namun, ruang pelonggaran tersebut disebut tetap terbatas karena ketidakpastian ekonomi global dan risiko geopolitik masih membayangi perekonomian.
Pandangan itu disampaikan Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Dr. Nano Prawoto, M.Si., dalam Diskusi Panel Outlook Ekonomi Indonesia 2026 yang digelar pada Selasa (30/12).
Menurut Nano, perekonomian global sedang memasuki fase transisi dari era pengetatan moneter menuju kondisi yang lebih netral, bahkan cenderung akomodatif. Perubahan ini sejalan dengan sinyal penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia, khususnya Amerika Serikat.
“Era suku bunga global yang tinggi mulai berakhir. Kondisi ini memberikan ruang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter secara hati-hati,” ujar Nano.
Dari sisi domestik, ia menilai kondisi moneter Indonesia relatif stabil. Inflasi disebut masih berada dalam rentang sasaran, nilai tukar rupiah bergerak terkendali, cadangan devisa berada pada level yang kuat, serta pertumbuhan kredit perbankan dinilai masih mampu menopang aktivitas ekonomi.
Stabilitas tersebut, lanjutnya, menjadi modal bagi otoritas moneter untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, Nano menekankan pelonggaran kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara agresif. Indonesia, menurutnya, tetap perlu mencermati sejumlah risiko global, mulai dari perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, hingga fragmentasi perdagangan internasional yang berpotensi memengaruhi arus modal dan kinerja ekspor nasional.
“Tahun 2026 akan menjadi fase transisi kebijakan moneter. Kita bergerak dari pengetatan menuju kondisi yang lebih normal, bahkan akomodatif, tetapi dengan ruang gerak yang tidak terlalu lebar. Karena itu, kebijakan moneter harus tetap dijalankan secara prudent,” jelasnya.
Nano juga menilai stabilitas suku bunga dan inflasi perlu diimbangi kebijakan fiskal yang mendukung transformasi ekonomi. Ia menyoroti pentingnya penguatan sektor industri, percepatan hilirisasi sumber daya alam, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia guna memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Di tengah proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global, Nano menilai Indonesia masih memiliki peluang menjaga momentum pertumbuhan selama stabilitas makroekonomi terjaga. Penurunan suku bunga global, menurutnya, berpotensi mendorong aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, apabila direspons dengan kebijakan yang kredibel dan konsisten.
“Stabilitas moneter harus tetap menjadi jangkar utama. Dengan koordinasi kebijakan yang kuat dan kehati-hatian dalam membaca dinamika global, Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga pertumbuhan di tengah ketidakpastian,” pungkasnya.

