Kuala Lumpur — Harga crude palm oil (CPO) Malaysia bertahan di atas RM4.000 per ton sepanjang Januari, berada di kisaran RM4.150 per ton. Pada saat yang sama, ekspor sawit Indonesia ke India disebut sedang lesu, membuka peluang bagi Malaysia untuk memperkuat posisinya di pasar India.
Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menilai salah satu faktor yang sempat memengaruhi sentimen pasar adalah ketidakpastian terkait kebijakan biodiesel B50 di Indonesia. Namun, program tersebut ditunda pemerintah Indonesia karena kondisi harga sawit dan gas oil dinilai kurang menguntungkan.
Dengan perhatian pasar kembali pada faktor-faktor fundamental seperti produksi, stok, dan ekspor, MPOC menyebut harga sawit Malaysia tetap stabil dan cenderung membentuk level dasar yang sulit turun dalam waktu dekat.
Dari sisi permintaan, MPOC memperkirakan impor palm oil secara global berpotensi meningkat dan bahkan dapat melampaui minyak kedelai pada kuartal pertama 2026. Di Argentina, harga minyak kedelai sempat menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir dan diperdagangkan dengan premi US$140 per ton dibanding Malaysian RBD palm olein. Sementara di India, minyak kedelai disebut lebih mahal US$84 per ton dibanding palm oil Malaysia.
Meski palm oil dinilai lebih murah dan kompetitif, MPOC menyebut permintaan impor India terhadap sawit Malaysia belum pulih sepenuhnya. Menurut MPOC, hal ini berkaitan dengan pelemahan nilai tukar rupiah India terhadap ringgit Malaysia, meski kondisi tersebut dipandang bersifat sementara.
MPOC menambahkan India tetap membutuhkan impor palm oil untuk memenuhi konsumsi domestik. Selain itu, Indonesia menaikkan tarif ekspor CPO menjadi 12,5% mulai 1 Maret. Langkah ini diperkirakan dapat meningkatkan daya saing Malaysia di pasar India dan berpotensi menurunkan stok sawit domestik Indonesia.
Faktor musiman juga disebut turut menopang harga. Februari yang lebih pendek, ditambah periode libur panjang seperti Thaipusam, Tahun Baru Imlek, dan awal puasa, dinilai dapat menurunkan produktivitas panen sehingga pasokan sementara menjadi terbatas.
Di sisi lain, konsumsi minyak kedelai di Amerika Serikat diperkirakan meningkat seiring kepastian kebijakan biofuel 45Z dan Renewable Volume Obligations yang dijadwalkan diumumkan pada awal Maret. MPOC menilai hal ini dapat membantu menyerap minyak kedelai domestik dan mempersiapkan pasar menjelang panen besar kedelai Brasil pada Maret hingga Mei. Produksi kedelai Brasil diproyeksikan naik menjadi lebih dari 180 juta ton pada 2026, meningkat dari 178 juta ton pada akhir 2025, didukung cuaca yang menguntungkan.
Dengan berbagai faktor tersebut, MPOC memprediksi harga sawit Malaysia pada Februari akan tetap stabil di kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton. Namun, MPOC menilai kenaikan harga yang berkelanjutan baru akan terjadi jika Indonesia mulai menjalankan program biodiesel B45, harga minyak mentah pulih, atau kebijakan biofuel AS memberikan dorongan kuat pada permintaan minyak kedelai.
Secara keseluruhan, perlambatan ekspor sawit Indonesia dinilai memberi ruang bagi Malaysia untuk memperkuat penguasaan pasar India, sementara harga sawit Malaysia tetap dianggap menarik bagi importir global.

