BERITA TERKINI
Enam Tekanan Ekonomi Global Disebut Picu “Everything Crisis”, Volatilitas Bitcoin dan Kripto Berpotensi Meningkat

Enam Tekanan Ekonomi Global Disebut Picu “Everything Crisis”, Volatilitas Bitcoin dan Kripto Berpotensi Meningkat

Jakarta — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran disebut memicu potensi “everything crisis”, yakni situasi ketika sejumlah tekanan ekonomi global terjadi dalam waktu bersamaan dan memperbesar gejolak di pasar keuangan. Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko—termasuk Bitcoin dan aset kripto lain—dinilai berpotensi mengalami pergerakan tajam dalam beberapa pekan ke depan.

Setidaknya ada enam faktor yang disorot sebagai sumber tekanan yang saling memperkuat, mulai dari lonjakan harga energi dan pangan, pengetatan likuiditas, hingga meningkatnya risiko kredit dan gangguan pasokan komoditas industri.

1. Risiko krisis pangan dan inflasi baru
Gangguan di Selat Hormuz dilaporkan memengaruhi sekitar 30% perdagangan pupuk global. Harga urea disebut naik sekitar 50% sejak konflik dimulai. Kondisi ini meningkatkan risiko kenaikan biaya produksi pertanian dan berujung pada lonjakan harga pangan.

Sejumlah analisis memperkirakan harga makanan global dapat naik 12% hingga 18% pada 2026. Jika terjadi, kenaikan harga pangan berpotensi mempercepat inflasi global. Dalam narasi pasar, inflasi yang meningkat kerap mendorong sebagian investor mencari aset alternatif, termasuk kripto.

2. Tekanan obligasi Jepang sebagai sinyal koreksi pasar
Yield obligasi Jepang dilaporkan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini disebut kerap menjadi sinyal yang mendahului koreksi besar di pasar global, seiring investor menurunkan eksposur risiko.

Tekanan di pasar obligasi dapat membuat likuiditas global mengetat. Perubahan likuiditas sering berdampak langsung pada aset yang volatil, termasuk kripto, sehingga Bitcoin berpotensi bergerak tajam.

3. Tanda-tanda retak di pasar private credit
Di sektor kredit swasta, beberapa perusahaan dilaporkan membatasi penarikan dana di tengah meningkatnya permintaan redemption akibat ketidakpastian ekonomi. Pembatasan ini menambah kekhawatiran soal tekanan likuiditas.

Jika guncangan di sektor kredit meluas, likuiditas global berisiko berkurang dan memicu efek rambatan ke berbagai kelas aset. Pasar kripto umumnya sensitif terhadap meningkatnya risiko sistemik.

4. Kenaikan gagal bayar subprime
Tingkat gagal bayar subprime disebut naik ke sekitar 10%, menjadi level tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Angka ini dilaporkan meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2021.

Kenaikan gagal bayar ini memunculkan kembali kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi apabila kredit macet terus bertambah. Dalam situasi tekanan ekonomi, kripto kerap mengalami volatilitas tinggi.

5. Risiko stagflasi dan ekspektasi inflasi AS
Ekspektasi inflasi konsumen di Amerika Serikat dilaporkan naik ke 6,2%, level tertinggi sejak Agustus 2025. Lonjakan harga minyak disebut memperkuat tekanan tersebut.

Stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan yang melemah—biasanya memberi dampak besar pada pasar keuangan. Dalam konteks ini, sebagian pelaku pasar menilai Bitcoin kerap diposisikan sebagai opsi lindung nilai alternatif di ranah kripto, meski pergerakannya tetap berisiko.

6. Krisis aluminium dan gangguan industri
Serangan terhadap fasilitas aluminium di Timur Tengah disebut menekan produksi global. Salah satu smelter besar dilaporkan menyumbang sekitar 2,3% output dunia, dengan pemulihan diperkirakan memakan waktu hingga 12 bulan.

Aluminium merupakan material penting bagi berbagai sektor industri. Gangguan pasokan dapat menambah tekanan ekonomi global dan memperbesar ketidakpastian pasar, yang pada akhirnya berpotensi menjalar ke aset berisiko termasuk kripto.

Implikasi bagi investor kripto
Kombinasi enam tekanan tersebut dinilai meningkatkan volatilitas global. Dalam kondisi makro yang ekstrem, pasar kripto kerap bergerak lebih tajam dibanding banyak aset lain, dengan Bitcoin sering menjadi indikator sentimen risiko.

Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan inflasi, harga energi, serta kondisi likuiditas global. Di tengah meningkatnya ketidakpastian, risiko dan peluang di pasar kripto dapat sama-sama membesar.