Eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global. Ketegangan ini dinilai melampaui konflik militer regional biasa karena berpotensi menekan pemulihan ekonomi dunia yang sebelumnya mulai terlihat.
Dalam laporan “CIO Market Pulse”, Chief Investment Officer DBS, Hou Wey Fook, menyebut dunia memasuki fase “perang di atas diplomasi”. Menurutnya, situasi ini membawa risiko yang lebih besar dibanding sejumlah konflik regional sebelumnya.
Salah satu risiko utama yang disorot adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang. Jalur laut tersebut menjadi rute penting distribusi energi global, melayani sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Jika akses di kawasan itu benar-benar tertutup, dampaknya diperkirakan meluas ke berbagai sektor.
Laporan tersebut menyebut, apabila terjadi penutupan total, harga minyak dapat melonjak ke kisaran 100 hingga 150 dollar AS per barel. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global dan sekaligus mempersempit ruang gerak bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, dalam menentukan kebijakan moneter. Dengan inflasi yang kembali menguat, peluang pemangkasan suku bunga dinilai semakin kecil, sehingga risiko resesi global ikut meningkat.
Di sisi lain, sektor keuangan Amerika Serikat justru mencatat kinerja kuat di tengah gejolak geopolitik. Sepanjang 2025, laba bersih industri perbankan AS mencapai rekor 295,6 miliar dollar AS. Deregulasi pada era pemerintahan Donald Trump serta bangkitnya aktivitas merger dan akuisisi disebut menjadi faktor yang menopang capaian tersebut.
Meski demikian, DBS juga menyoroti potensi tantangan jangka panjang dari perkembangan kecerdasan buatan (AI). Walau perusahaan semikonduktor seperti Nvidia terus membukukan pertumbuhan pendapatan yang pesat, percepatan otomatisasi AI dikhawatirkan dapat mengganggu lapangan kerja kerah putih secara luas pada 2028. Jika terjadi, kondisi itu berpotensi menekan daya beli konsumen global dan kembali membebani pertumbuhan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, emas kembali dipandang sebagai instrumen perlindungan. Ketika risiko geopolitik dan tekanan inflasi meningkat, aset safe haven seperti emas kerap menjadi pilihan investor untuk menjaga nilai portofolio.

