Eskalasi militer skala besar di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan dan kelancaran perdagangan internasional. Situasi memanas setelah pasukan gabungan Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran.
Menurut laporan The Wall Street Journal, operasi yang dimulai pada Sabtu dini hari itu melibatkan lebih dari 700 sorti penerbangan dan menyasar lebih dari 2.000 target strategis. Target yang disebutkan meliputi fasilitas intelijen, sistem rudal balistik, hingga pusat komando tinggi di Teheran. Laporan tersebut juga menyebutkan tewasnya sejumlah tokoh senior, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Merespons serangan itu, Teheran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal yang menargetkan aset Israel serta Amerika Serikat di kawasan Teluk. Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran akan terganggunya jalur perdagangan, terutama di titik krusial seperti Selat Hormuz.
Di dalam negeri, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menginstruksikan seluruh jajarannya, khususnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), untuk menyiapkan skenario menghadapi kemungkinan dampak krisis. Pramono menilai gangguan distribusi di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 30 persen pasokan minyak dunia, berpotensi memicu kenaikan ongkos kirim barang dan jasa di Ibu Kota.
“Saya meminta jajaran BUMD untuk selalu berpikir tentang krisis. Jika terjadi gangguan pasokan, kita harus siap mengantisipasi dampaknya terhadap harga-harga di Jakarta,” ujar Pramono saat meninjau kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Senin.
Selain menyiapkan langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melakukan intervensi di sektor pangan untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Idul Fitri. Salah satu upaya yang disebutkan adalah impor sapi dari Australia untuk menyeimbangkan stok dan harga daging di pasar lokal.
Pramono menyatakan hingga saat ini harga daging sapi di Jakarta masih stabil berkat langkah preventif tersebut. Pemprov DKI menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi global sambil menjaga kondisi di dalam negeri tetap kondusif, termasuk dengan mengoptimalkan peran BUMD pangan guna menahan laju inflasi yang dipicu guncangan rantai pasok internasional.

