Harga minyak mentah dilaporkan melonjak hingga sekitar 82 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, dari sebelumnya berada di kisaran 67 dolar AS. Kenaikan ini dikaitkan dengan eskalasi konflik Iran dengan Israel dan AS di Timur Tengah yang dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, jika Iran terlibat dalam konflik terbuka, pasokan minyak global menjadi salah satu sektor pertama yang terdampak. Ia menyoroti risiko pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, serta meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Merah.
Menurut Airlangga, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah. Pertamina disebut telah menjalin nota kesepahaman dengan sejumlah perusahaan energi AS, di antaranya Chevron dan ExxonMobil, untuk memastikan alternatif pasokan tetap tersedia.
Pemerintah juga memantau berbagai opsi impor dari negara lain, termasuk Rusia, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan aspek kelayakan.
Airlangga menambahkan, dampak geopolitik tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga dapat memengaruhi transportasi logistik dan pariwisata. Gangguan jalur pelayaran dan distribusi barang dinilai berpotensi meningkatkan biaya logistik global. Sementara itu, ketidakpastian keamanan kawasan dapat menekan pergerakan wisatawan internasional.
Terkait potensi pengaruh terhadap ekspor Indonesia, Airlangga menyebut dampaknya sangat bergantung pada durasi dan skala konflik. Pemerintah memantau perkembangan tersebut, termasuk kemungkinan efeknya terhadap mitra dagang di kawasan seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Ia juga menyampaikan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak tertutup kemungkinan terjadi apabila harga minyak dunia terus meningkat, seperti yang pernah terjadi saat konflik Rusia-Ukraina.
Di sisi lain, Airlangga menyebut suplai dari AS diperkirakan meningkat dan OPEC juga menambah kapasitas produksi, sehingga diharapkan dapat meredam tekanan harga.
Sementara itu, pengamat energi Fahmy Radhi menilai lonjakan harga minyak sudah terjadi sejak serangan pertama dalam konflik di Timur Tengah. Menurutnya, apabila eskalasi perang semakin meluas, kondisi dapat memburuk dan harga minyak dunia berpotensi naik hingga 100 dolar AS per barel.
“Serangan pertama itu sudah menaikkan harga minyak, harga minyak dunia jadi 67 dolar AS. Sekarang sudah menembus 80 dolar AS. Kalau eskalasi perang meluas pasti akan memicu kenaikan yang lebih tinggi lagi, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai 100 dolar AS,” ujarnya.

