Wakil Ketua Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Fauzi Amro, menyoroti potensi dampak ekonomi global akibat memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai eskalasi tersebut dapat berimbas pada Indonesia, terutama melalui gejolak harga energi dan gangguan perdagangan internasional.
Pernyataan itu disampaikan Fauzi saat ditemui di sela kegiatan buka puasa bersama anak yatim di Sekretariat MPW Pemuda Pancasila Sumatera Selatan, Palembang, Selasa (3/3/2026).
Fauzi mengatakan konflik bersenjata tersebut merupakan bagian dari dinamika geopolitik global yang berada di luar kewenangan Indonesia. Ia menyebut, Amerika Serikat bersama Israel dan sekutunya berhadapan dengan Iran beserta sekutunya, seperti Cina dan Korea Utara. “Kita hanya bisa berharap konflik ini tidak berkepanjangan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir serangan yang terjadi cukup besar dan menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak. Menurutnya, situasi itu telah menjadi perhatian dunia.
Dalam konteks ekonomi, Fauzi menilai dampak yang paling cepat terasa dari konflik adalah pada sektor ekonomi global. Ia mengingatkan, Indonesia yang memiliki komoditas ekspor utama seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) berpotensi terdampak apabila terjadi gangguan distribusi maupun penurunan permintaan pasar internasional.
“Komoditas ekspor kita seperti batu bara dan CPO bisa terhambat. Ini tentu berpengaruh terhadap pendapatan negara,” kata Fauzi.
Selain itu, ia menekankan pentingnya mewaspadai kenaikan harga minyak dunia. Menurut Fauzi, Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah sehingga lonjakan harga minyak dapat menekan struktur ekonomi makro dan kondisi ekonomi nasional.
“Harga minyak internasional biasanya langsung melambung saat konflik seperti ini. Kita masih impor minyak dari luar. Kalau harga minyak naik, itu mempengaruhi struktur ekonomi makro dan kondisi ekonomi nasional,” ujarnya.
Fauzi menilai dampak langsung mungkin belum sepenuhnya terasa karena konflik baru berlangsung sekitar empat hingga lima hari. Namun, ia mengingatkan efeknya bisa signifikan apabila perang berlarut hingga berbulan-bulan.
Ia juga menyoroti potensi penurunan penerimaan negara apabila ekspor melemah dan aktivitas perdagangan internasional melambat. Menurutnya, hal itu dapat memengaruhi penerimaan dari pajak, bea cukai, maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang pada akhirnya menekan ruang fiskal pemerintah.
Karena itu, Fauzi mendorong pemerintah segera melakukan mitigasi risiko untuk mengantisipasi gejolak harga energi dan kebutuhan pokok. “Pemerintah harus cepat melakukan mitigasi risiko, terutama terkait harga minyak dan kebutuhan pokok lainnya agar tidak membebani masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, stabilitas ekonomi nasional perlu dijaga di tengah ketidakpastian global, termasuk melalui penguatan cadangan energi, pengendalian inflasi, dan menjaga daya beli masyarakat.

