London — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menekankan pentingnya sistem global yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin saling terhubung. Dalam pernyataannya, ia juga memperingatkan bahwa nilai-nilai multilateralisme terus mengalami pengikisan di tengah berbagai krisis global.
Guterres menyampaikan pesan tersebut saat berbicara di Methodist Central Hall, London—lokasi penyelenggaraan Sidang Umum PBB pertama pada 10 Januari 1946. Dalam acara peringatan yang diselenggarakan United Nations Association-UK dan dihadiri lebih dari 1.000 delegasi dari berbagai negara, ia mendorong para delegasi untuk berani melakukan perubahan.
“Berani menemukan kembali keberanian mereka yang datang ke gedung ini 80 tahun lalu untuk membangun dunia yang lebih baik,” kata Guterres.
Ia menyoroti makna simbolis tempat tersebut. Menurutnya, Sidang Umum PBB pertama digelar di gedung yang sama hanya empat bulan setelah berakhirnya Perang Dunia II, sehingga menjadi pengingat kuat alasan dibentuknya PBB.
Guterres menggambarkan kondisi saat itu, ketika para delegasi harus melewati kota yang terluka akibat perang. Ia mengatakan, ketika bom-bom berjatuhan, warga sipil berlindung di ruang bawah tanah Methodist Central Hall, yang disebutnya sebagai salah satu tempat perlindungan serangan udara terbesar di London.
Dalam pidatonya, Guterres mengakui kerja Sidang Umum PBB tidak selalu mudah atau berjalan mulus. Namun, ia menilai lembaga tersebut merupakan cermin dunia—dengan seluruh perpecahan dan harapannya—serta panggung bagi kisah bersama umat manusia.
Menilik satu dekade terakhir, Guterres menyinggung konflik yang berlangsung brutal di Gaza, Ukraina, dan Sudan. Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, serta pandemi Covid-19 yang menurutnya memperkuat nasionalisme, memperlambat pembangunan, dan menghambat aksi iklim global.
Guterres menilai tahun 2025 sebagai periode yang sangat menantang bagi kerja sama internasional dan nilai-nilai yang menjadi fondasi PBB. Ia mengatakan dunia membutuhkan sistem multilateralisme yang kuat, responsif, dan didukung sumber daya memadai untuk menghadapi tantangan global yang saling terhubung. Namun, ia memperingatkan bahwa nilai-nilai multilateralisme saat ini terus mengalami pengikisan.
“Seiring pergeseran pusat kekuatan global, kita dihadapkan pada pilihan: membangun masa depan yang lebih adil atau justru lebih tidak stabil,” ujarnya.
Dalam kunjungannya ke London pada Jumat, Guterres juga bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk membahas agenda reformasi ambisius PBB. Keduanya sepakat reformasi tersebut penting agar PBB mampu menjawab tantangan modern di tengah situasi global yang semakin bergejolak.

