BERITA TERKINI
Harga Minyak Brent Tembus US$85 per Barel di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Brent Tembus US$85 per Barel di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Harga minyak dunia kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Minyak mentah Brent sempat menembus level US$85 per barel, atau sekitar Rp1.437.095 per barel dengan asumsi kurs 1 dolar AS setara Rp16.907.

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan energi global seiring eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pergerakan harga energi ini turut memicu volatilitas di sejumlah pasar, dari komoditas hingga aset berisiko.

Brent mencapai level tertinggi sejak Juli 2024

Brent, salah satu acuan utama harga minyak global, mencatat kenaikan tajam dalam beberapa hari terakhir dan disebut menjadi level tertinggi sejak Juli 2024. Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya risiko geopolitik di kawasan penghasil energi.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian, pelaku pasar menilai potensi gangguan produksi dan distribusi minyak dari Timur Tengah dapat memperketat pasokan global. Dalam kondisi seperti ini, harga minyak cenderung bergerak cepat ketika pasar memperkirakan suplai berisiko berkurang.

Selat Hormuz kembali jadi perhatian

Salah satu kekhawatiran utama pasar adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi yang dinilai krusial. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global melewati jalur laut ini setiap hari.

Disebutkan pula adanya gangguan aktivitas pelayaran setelah serangan terhadap kapal dan fasilitas energi. Ancaman terhadap jalur logistik ini membuat perusahaan pelayaran dan asuransi meningkatkan biaya operasional. Ketika jalur energi global terganggu, pasar biasanya merespons dengan kenaikan harga minyak dan gas karena pasokan menjadi lebih terbatas.

Harga gas ikut melonjak

Tekanan tidak hanya terjadi pada minyak. Harga gas alam global juga dilaporkan naik signifikan. Di Inggris, harga gas sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir sebelum sedikit turun pada akhir sesi perdagangan.

Kenaikan harga gas terjadi setelah salah satu eksportir energi terbesar dunia menghentikan produksi akibat serangan militer pada fasilitasnya. Gangguan produksi ini memperketat pasokan dan menambah kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi, yang dapat berdampak pada biaya listrik, transportasi, dan produksi industri.

Pasar saham bergejolak

Lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik juga memicu tekanan di pasar saham global. Investor disebut mengurangi eksposur pada aset berisiko sehingga memicu aksi jual dan pelemahan pada sejumlah indeks utama dunia.

Risiko inflasi global meningkat

Harga minyak yang lebih tinggi biasanya berimbas pada kenaikan biaya bahan bakar, transportasi, dan logistik. Jika bertahan, kondisi ini berpotensi mendorong inflasi global karena biaya produksi dan distribusi ikut naik.

Dalam situasi inflasi yang meningkat, bank sentral umumnya lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Dampaknya dapat merambat ke berbagai kelas aset, termasuk komoditas dan saham, seiring pelaku pasar menimbang ulang prospek ekonomi dan kebijakan moneter.

Secara keseluruhan, kenaikan Brent hingga menembus US$85 per barel menegaskan sensitivitas pasar energi terhadap perkembangan geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah, terutama risiko pada jalur strategis seperti Selat Hormuz, menjadi faktor yang terus dipantau karena dapat memengaruhi arah harga energi dan stabilitas pasar global.