London—Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves pada Selasa (3/3/2026) berupaya menampilkan gambaran optimistis mengenai kondisi ekonomi Inggris di tengah lonjakan harga minyak dan gas setelah perang Iran yang berkembang cepat dan membayangi prospek ekonomi global.
Dalam pemaparan perkiraan ekonomi terbaru yang disusun Kantor Tanggung Jawab Anggaran (Office for Budget Responsibility/OBR) yang independen, Reeves menyatakan rencana ekonomi yang ia dorong sejak Partai Buruh kembali berkuasa pada pemilu 2024 mulai menunjukkan hasil.
Reeves mengatakan pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan sedikit lebih rendah dibanding proyeksi saat anggaran November lalu, yakni 1,1%. Namun, pertumbuhan diperkirakan lebih tinggi pada 2027 dan 2028, masing-masing 1,6%. Ia juga menyebut inflasi serta pinjaman diproyeksikan turun lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.
“Perkiraan hari ini menegaskan bahwa pilihan yang telah dibuat pemerintah ini adalah pilihan yang tepat,” kata Reeves.
Meski berharap pernyataannya di Dewan Perwakilan Rakyat berlangsung relatif tenang, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa perang Iran berpotensi mengacaukan proyeksi tersebut—menekan pertumbuhan, memicu inflasi, dan meningkatkan utang.
Dalam perkembangan terbaru, harga minyak Brent sebagai patokan internasional dilaporkan melonjak lebih dari 15% dalam sepekan hingga menembus US$80 per barel. Sementara itu, harga gas global—yang sangat diandalkan Inggris—hampir berlipat ganda. Jika tren ini berlanjut, kenaikan tersebut berisiko mendorong tagihan energi lebih tinggi bagi rumah tangga dan pelaku usaha, sehingga memicu inflasi dan menekan pertumbuhan.
Reeves mengawali pidatonya dengan mengakui situasi dunia yang disebutnya “lebih tidak pasti” dalam beberapa hari terakhir, menyusul keputusan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah anggota kepemimpinan Iran lainnya.
“Merupakan kewajiban saya dan pemerintah ini untuk menentukan arah di tengah ketidakpastian itu, untuk mengamankan ekonomi kita dari guncangan, dan melindungi keluarga dari gejolak yang kita lihat di luar perbatasan kita,” ujar Reeves.
Pemerintah Partai Buruh, yang disebut telah kehilangan dukungan signifikan sejak kemenangan pemilu 2024, berharap 2026 menjadi tahun ketika terlihat jelas bahwa ekonomi Inggris berada pada pijakan yang lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

