Harga minyak dunia terpantau relatif stabil di tengah perhatian investor terhadap perkembangan konflik Iran dan dampaknya terhadap pasokan energi global. Ketegangan geopolitik membuat pasar energi masih dibayangi ketidakpastian.
Berdasarkan laporan Bloomberg Technoz, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$99 per barel, sementara Brent berada di kisaran US$111 per barel. Pergerakan harga ini dikaitkan dengan terganggunya jalur distribusi energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Salah satu faktor yang disorot adalah kondisi Selat Hormuz yang disebut hampir lumpuh. Selat ini merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, dan sejak konflik pecah jalur tersebut dilaporkan sulit dilalui, sehingga menghambat pasokan minyak mentah dan gas alam ke pasar global.
Situasi tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi global. Badan Energi Internasional menilai gangguan ini sebagai salah satu guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran telah meminta pembukaan blokade laut di Selat Hormuz. Menurutnya, kedua pihak kini tengah bernegosiasi untuk mengakhiri konflik yang disebut telah berlangsung sejak Februari.
Di tengah ketegangan, Uni Emirat Arab mengambil langkah dengan memutuskan keluar dari OPEC setelah lebih dari enam dekade bergabung. Keputusan itu disebut diambil untuk memberikan fleksibilitas dalam merespons kebutuhan pasar energi global.
Selain itu, Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi ekonomi, termasuk terhadap perusahaan penyulingan minyak yang diduga memiliki keterkaitan dengan perdagangan Iran.
Perkembangan ini menunjukkan pasar energi global masih sangat dipengaruhi dinamika geopolitik. Investor pun terus mencermati arah negosiasi AS dan Iran yang dinilai akan menentukan pergerakan harga minyak ke depan.