India dan Uni Eropa terus memperkuat kemitraan strategis yang telah terjalin sejak 2004, mencakup kerja sama politik, ekonomi, dan kelembagaan. Dalam hubungan ekonomi, Uni Eropa disebut menjadi salah satu mitra perdagangan dan investasi terbesar India, dengan nilai transaksi tahunan sekitar 120–135 miliar euro.
Berbagai mekanisme dialog dimanfaatkan untuk memperdalam kerja sama, termasuk format Troika. Meski kemajuan perjanjian perdagangan bilateral sempat berjalan lambat, perubahan dinamika geopolitik global mendorong kedua pihak mempercepat penyelesaian Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) India–Uni Eropa.
Disrupsi dalam aliansi Trans-Atlantik akibat unilateralisme Amerika Serikat menambah urgensi bagi India dan Uni Eropa untuk menuntaskan perjanjian tersebut. Kedua pihak menargetkan penyelesaian kesenjangan negosiasi sebelum Januari 2026, bertepatan dengan rencana penyelenggaraan KTT India–Uni Eropa di New Delhi.
Dalam rangka memperkuat sinyal diplomatik, India mengundang pimpinan Uni Eropa sebagai Tamu Kehormatan pada peringatan Hari Republik, 26 Januari. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Ketua Dewan Eropa António Costa diperkirakan menghadiri agenda tersebut.
Langkah-langkah ini mencerminkan penyesuaian pendekatan kedua pihak di tengah situasi global yang dinilai semakin volatil dan kompleks. Perbedaan pandangan, termasuk terkait konflik Rusia–Ukraina serta impor minyak Rusia, disebut tidak menghalangi intensifikasi dialog tingkat tinggi.
Pragmatisme ekonomi turut mendorong Uni Eropa menyesuaikan sikap terhadap India, yang disebut sebagai ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat dunia. India juga disebut telah melampaui Inggris dan Jepang dan menjadi ekonomi terbesar keempat dalam waktu relatif singkat.
Kontak tingkat tinggi antara kedua pihak meningkat, termasuk kunjungan 22 Komisaris Uni Eropa ke India untuk pertama kalinya. Disebut pula Kanselir Jerman Merz menandatangani lebih dari dua lusin perjanjian dalam kunjungan kenegaraan terbarunya ke India.
Di sisi lain, Prancis memperkuat kemitraan strategis melalui dialog bilateral, termasuk rencana finalisasi pembelian ratusan pesawat tempur Rafale. Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar mengawali tahun dengan kunjungan ke Prancis dan Luksemburg.
Kedua pihak juga mengeksplorasi kerja sama di bidang inovasi, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas dalam kerangka Tahun Inovasi India–Prancis. Sejumlah isu strategis seperti pertahanan, keamanan maritim, antariksa, nuklir sipil, dan ekonomi turut menjadi fokus pembahasan.
India dan Uni Eropa menilai Koridor IMEC memiliki potensi besar dalam memperkuat konektivitas India, Timur Tengah, dan Eropa. Sementara itu, perundingan perdagangan yang telah berlangsung selama dua dekade disebut mendekati titik temu, terutama pada isu akses pasar dan hambatan teknis.
Perbedaan pandangan terkait pertanian, otomotif, Indikasi Geografis, serta mekanisme Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa dikatakan telah dipersempit secara signifikan. Perjanjian ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk India yang padat karya.
Selain perdagangan, kerja sama bilateral juga meluas ke isu perubahan iklim, kontra-terorisme, teknologi digital, dan energi terbarukan. India dan Uni Eropa menegaskan hubungan ke depan perlu dilandasi saling menghormati, kepentingan bersama, dan kepekaan strategis, dengan tujuan membangun kemitraan strategis demokratis yang produktif bagi tatanan global abad ke-21.

