Jakarta semakin menegaskan perannya sebagai simpul penting dalam peta desain dan bisnis gaya hidup di kawasan. Kehadiran ruang ritel berskala besar di kawasan strategis ibu kota menjadi penanda bahwa Jakarta tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar, melainkan juga arena pertemuan gagasan, estetika, dan nilai-nilai bisnis berkelanjutan.
Ruang baru tersebut dikembangkan oleh perusahaan furnitur dan gaya hidup yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO). Inisiatif ini dipandang sebagai langkah strategis yang mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap potensi Jakarta dalam ekosistem kreatif global, sekaligus merespons kebutuhan ruang interaksi bagi pelaku desain, arsitektur, dan masyarakat urban.
Presiden Direktur PT Imago Mulia Persada Tbk, Erlangga Boenawan, menyebut realisasi proyek ini sebagai capaian yang tidak semata bersifat bisnis, tetapi juga personal dan reflektif. Ia menekankan pentingnya kerendahan hati serta kesadaran etis dalam setiap ekspansi.
“Segala yang kami bangun harus dipandang sebagai amanah. Ini bukan semata soal pencapaian, tetapi tentang bagaimana kami menjaga nilai, integritas, dan tanggung jawab yang menyertainya,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.tv, Minggu (11/1/2026).
Dari sisi korporasi, pengoperasian ruang ritel ini diproyeksikan memberi kontribusi terhadap kinerja perusahaan. Manajemen memperkirakan adanya dampak positif pada pendapatan konsolidasi tahunan seiring meningkatnya aktivitas dan kepercayaan pasar.
Namun, Erlangga menegaskan orientasi perusahaan tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan angka. Menurutnya, profit perlu diperlakukan sebagai alat, bukan tujuan akhir.
“Ketika skala usaha membesar, tantangan terbesarnya justru menjaga kemanusiaan. Nilai itu tidak boleh hilang di tengah ambisi,” katanya.
Pendekatan tersebut turut tercermin dalam konsep ruang yang diusung. Alih-alih menjadi etalase komersial konvensional, area ini dirancang sebagai “galeri hidup” yang mengedepankan pengalaman, dialog, dan pertukaran ide. Filosofi Zeitgeist atau semangat zaman diterjemahkan ke dalam tata ruang yang menekankan keaslian, kenyamanan, dan relevansi dengan kehidupan modern.
Manajemen juga membawa gagasan “demokrasi desain”, yakni upaya menjembatani dunia desain berkualitas dengan pemahaman publik yang lebih luas. Ruang tersebut diharapkan menjadi titik temu—agora modern—bagi arsitek, desainer, dan klien untuk berdiskusi serta berkolaborasi.
Di tengah persaingan industri gaya hidup yang kian ketat, ekspansi ini menunjukkan upaya menggabungkan pertumbuhan bisnis dengan komitmen terhadap tata kelola, akuntabilitas, dan keberlanjutan jangka panjang. Bagi Jakarta, kehadiran ruang semacam ini memperkuat narasi kota sebagai pusat kreativitas dan desain yang diperhitungkan di kawasan Asia Pasifik.

