Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai memanasnya konflik global justru membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik relokasi perusahaan dari berbagai negara. Namun, pada saat yang sama, dunia usaha di dalam negeri masih menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan dinamika geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, mendorong perusahaan global mencari lokasi alternatif yang lebih stabil untuk menjaga rantai pasok dan operasional bisnis. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang dilirik karena stabilitas ekonomi dan besarnya pasar domestik.
“Ini peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan relokasi industri,” ujar Anindya saat ditemui di kantornya di Jakarta, Jumat (24/4).
Meski demikian, Anindya mengingatkan dampak konflik global tidak bersifat jangka pendek. Ia menilai perubahan yang terjadi dapat menggeser struktur rantai pasok global dalam periode yang lebih panjang. “Nah, tentu kita tidak mengatakan, kita mengatakan bahwa apa yang terjadi di dunia tengah ini dampaknya bukan hanya 1-2 bulan atau 1-2 kuartal, bisa lebih,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, ia menyebut dunia usaha dihadapkan pada dua pilihan utama: bertahan melalui efisiensi atau kembali mendorong pertumbuhan. “Nah, ini adalah dua jalur yang mesti ditempuh memilih untuk bisa efisiensi untuk cepat kembali kepada growth,” ujarnya.
Kadin, melalui survei Business Pulse, mencatat adanya perbedaan respons pelaku usaha terhadap tekanan ekonomi. Sebagian memilih fokus pada efisiensi, sementara sebagian lainnya ingin ekspansi dengan dukungan kebijakan. “Nah, dari hasilnya terjadi suatu dipotomi antara yang siap dan tidak siap,” jelas Anindya.
Kelompok yang belum siap cenderung menahan ekspansi dan fokus menjaga kinerja. Sementara itu, pelaku usaha yang siap berharap adanya kemudahan regulasi dan insentif untuk mempercepat investasi. “Yang tidak siap itu tentu selalu berpikir fokus kepada efisiensi sedangkan yang siap itu justru ingin fokus untuk bisa kembali berinvestasi dan mengembangkan usahanya,” katanya.
Selain itu, sekitar 30% pelaku usaha memilih bersikap wait and see di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dari sisi tantangan, Anindya menyoroti hampir separuh faktor yang memengaruhi dunia usaha berasal dari kebijakan pemerintah dan faktor domestik yang masih bisa dikelola, termasuk kemudahan perbankan. “Nah, tadi kita lihat bahwa hampir 50% itu datang dari kebijakan pemerintah… dan kemudahan perbankan,” ujarnya. Meski begitu, ia menilai pemerintah cukup responsif membaca kondisi dan membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha.
Di sisi lain, tekanan terhadap likuiditas dan daya beli masyarakat yang belum pulih disebut menjadi tantangan utama, sehingga pelaku usaha lebih berhati-hati dalam ekspansi dan investasi.
Anindya juga menyoroti tren ketenagakerjaan, di mana perusahaan dinilai lebih banyak membuka program magang dibandingkan rekrutmen karyawan tetap. Hal ini dikaitkan dengan efisiensi biaya operasional sekaligus kebutuhan adaptasi terhadap talenta baru. “Tentu satu jelas, OPEX. tapi lebih dari itu adalah penyebaran daripada talenta,” katanya.
Meski menghadapi tekanan, Kadin menilai Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk menarik relokasi industri global, terutama sektor berbasis ekspor dan hilirisasi. Menurut Anindya, perusahaan global kini mencari lokasi yang siap pakai dan memiliki ekosistem pendukung yang kuat. “Tempat yang istilahnya ready to use atau hit the ground running. Kalau Indonesia bisa memberikan hal tersebut, sudah pasti Indonesia punya sumber daya manusianya banyak,” ujarnya.
Ia menambahkan, peluang relokasi tidak hanya datang dari ketegangan geopolitik terbaru, tetapi juga merupakan kelanjutan pergeseran rantai pasok global sebelumnya, termasuk dampak rivalitas Amerika Serikat dan China.
Dengan kondisi itu, Kadin menilai kunci bagi Indonesia adalah memastikan kebijakan yang tepat, kesiapan daerah, serta penguatan sektor potensial seperti hilirisasi dan industri berbasis ekspor.
Di tengah tekanan global, Anindya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekonomi nasional. “Balance sheet Indonesia baik, income statement dalam tekanan, cash flow yang mesti dijaga,” ujarnya. Ia optimistis Indonesia tetap memiliki peluang untuk keluar lebih kuat jika mampu mengelola tekanan sekaligus memanfaatkan momentum relokasi industri global.