Dunia dinilai tidak berada dalam kondisi perang besar, namun juga tidak sepenuhnya damai. Situasi yang terjadi disebut sebagai kebuntuan strategis (strategic stalemate), yang dianggap lebih berbahaya daripada perang terbuka karena dampaknya tidak selalu terlihat, datang tanpa diduga, tetapi terasa perlahan.
Dalam konteks ini, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 digambarkan bukan sebagai perang konvensional dengan garis depan yang jelas, melainkan perang asimetris. Meski demikian, dampaknya disebut nyata terhadap jalur energi global.
Salah satu konsekuensi yang disorot adalah macet totalnya Selat Hormuz. Titik sempit di Timur Tengah itu disebut menjadi sumber gangguan yang berimbas pada ketahanan energi Asia Tenggara.
Di tengah situasi tersebut, harapan sempat diarahkan kepada BRICS—kelompok yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—yang kerap dipandang sebagai calon penyeimbang kekuatan Barat. Namun, harapan itu dinilai meredup setelah pertemuan para deputi menteri luar negeri BRICS di New Delhi pada 24 April 2026 hanya menghasilkan Chair’s Summary, bukan pernyataan bersama. Hasil tersebut dipandang menunjukkan BRICS belum mampu berbicara dengan satu suara.