Kekhawatiran terhadap potensi krisis global pada 2026 mulai memengaruhi pola belanja masyarakat di berbagai negara. Sepanjang 2025, pembelian komputer dan perangkat elektronik dilaporkan meningkat, seiring upaya konsumen mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga pada tahun berikutnya.
Fenomena ini dikaitkan dengan kekhawatiran pasokan chip memori global yang kian ketat, sementara kebutuhan teknologi meningkat tajam seiring berkembangnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kombinasi keduanya menempatkan pasar perangkat elektronik pada risiko kenaikan harga, penurunan spesifikasi, atau bahkan keduanya terjadi bersamaan.
Tekanan terhadap industri elektronik konsumen juga dipengaruhi faktor eksternal, mulai dari ketegangan geopolitik, kebijakan tarif dari pemerintahan Amerika Serikat, hingga perubahan besar dalam ekosistem perangkat lunak global.
Berdasarkan laporan firma riset IDC yang dikutip FoneArena pada Jumat (16/1/2026), pengapalan PC pada kuartal IV 2025 naik 9,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 76,4 juta unit. Secara keseluruhan sepanjang 2025, pengapalan PC meningkat 8,1% dibandingkan 2024 menjadi 284,7 juta unit.
Dari sisi pangsa pasar, Lenovo tetap memimpin dengan pertumbuhan 14,5% YoY dan pangsa pasar 24,9%, setara dengan pengapalan 70,8 juta unit sepanjang 2025. HP berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 8,4% YoY dan pangsa pasar 20,2%, dengan total pengapalan 57,5 juta unit.
Dell Technologies menempati posisi ketiga dengan pertumbuhan 5,2% YoY, menguasai 14,4% pangsa pasar dan mengapalkan 41,1 juta unit. Apple dan Asus berada di posisi keempat dan kelima, masing-masing mencatat pertumbuhan dua digit. Apple tumbuh 11,1% YoY dengan pangsa pasar 9% dan pengapalan 25,6 juta unit, sementara Asus tumbuh 13,4% YoY dengan pangsa pasar 7,2% dan pengapalan 20,5 juta unit.
Meski pabrikan PC mencatat kinerja kuat pada 2025, pasar diperkirakan menghadapi tekanan pada 2026 akibat potensi krisis chip memori. Dampaknya dapat terlihat pada rata-rata spesifikasi PC yang berisiko lebih rendah karena kelangkaan memori. Produsen juga disebut berpotensi memanfaatkan cadangan komponen yang tersisa serta menaikkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).
IDC menilai merek besar seperti Lenovo, Apple, dan HP diperkirakan memiliki kemampuan lebih untuk melewati periode sulit, termasuk melalui skala bisnis dan alokasi memori yang mereka miliki. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat pemain kecil dan regional semakin tertekan dalam mempertahankan posisi di pasar.
VP Riset IDC Worldwide Mobile Device Trackers, Jean Phillippe Bouchard, memperkirakan pasar PC dalam 12 bulan ke depan akan berubah drastis seiring cepatnya perkembangan krisis pasokan memori. Ia menyebut tekanan harga yang mulai muncul di sejumlah produsen dapat diikuti oleh penurunan spesifikasi rata-rata PC.
“Sepertinya ini demi menjaga ketersediaan komponen, sehingga pasar diperkirakan akan bergerak sangat fluktuatif sepanjang tahun depan,” kata Bouchard.
Sementara itu, Manajer Riset IDC, Jitesh Ubrani, menilai kelangkaan memori akan berdampak luas dan membentuk ulang dinamika pasar dalam dua tahun ke depan. Menurutnya, produsen besar berpeluang memanfaatkan skala untuk merebut pangsa pasar dari pemain kecil dan regional, namun hal ini sekaligus meningkatkan risiko keberlangsungan merek-merek kecil.
“Di sisi konsumen, sebagian pembeli, terutama penggemar rakitan PC, diperkirakan akan menunda pembelian atau mengalihkan belanja ke produk dan pengalaman lain,” kata Ubrani.

