JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah serangan Amerika Serikat ke Iran dan kabar balasan yang menyasar sejumlah titik strategis di kawasan tersebut. Analis pasar modal sekaligus investor Elen May menilai perkembangan ini tidak bisa dipandang semata sebagai konflik regional, karena berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.
Dalam pemaparannya di kanal YouTube pribadinya, Elen menyebut eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat menjadi pemicu ketegangan yang lebih luas. Menurut dia, dampak konflik tidak hanya berkaitan dengan aspek militer, melainkan juga menyentuh rantai pasok global, jalur energi, serta arsitektur keuangan dunia.
“Ini bukan cuma soal perang langsung. Ini soal struktur supply chain global, jalur energi, dan arsitektur keuangan dunia,” ujarnya.
Selat Hormuz sebagai jalur krusial
Salah satu titik yang disorot adalah Selat Hormuz. Elen menyampaikan bahwa sekitar 30% perdagangan minyak dunia dan hampir 20% LNG melewati jalur tersebut. Selain itu, lebih dari 30% perdagangan pupuk global juga disebut transit di kawasan itu.
Jika jalur ini terganggu akibat konflik, Elen memperkirakan harga energi global akan terdorong naik. Kenaikan harga minyak, gas, dan batu bara dapat meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, mengingat energi merupakan komponen dasar dalam banyak aktivitas industri.
Konsekuensi lanjutannya, menurut Elen, adalah meningkatnya inflasi global, kenaikan harga barang konsumsi, dan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Ia juga menilai situasi semacam ini berpotensi memicu tekanan pada sektor keuangan.
Bukan hanya isu nuklir
Elen menilai konflik yang berkembang tidak semata terkait isu nuklir, melainkan berkaitan dengan “power equilibrium” atau keseimbangan kekuatan global. Iran disebut berada di posisi strategis yang menghubungkan Timur Tengah, Asia Tengah, Laut Kaspia, serta jalur energi Eurasia. Perubahan posisi geopolitik Iran dinilai dapat menggeser peta kekuatan kawasan dan global.
China, India, dan Rusia dalam pusaran kepentingan
Elen menyebut salah satu negara yang terdampak adalah Tiongkok. China mengimpor sekitar 70% kebutuhan energinya, dan sekitar 15% pasokan minyaknya disebut berasal dari Iran. Ia juga menyinggung adanya perjanjian kerja sama jangka panjang hingga 25 tahun antara kedua negara.
Selain energi, Iran disebut memiliki cadangan litium sekitar 8,5 juta ton. Litium merupakan bahan utama baterai kendaraan listrik. Elen menilai, jika Iran dan China membangun rantai pasok litium di luar sistem dolar Amerika, hal itu berpotensi menantang dominasi teknologi dan finansial Amerika Serikat.
India juga disebut memiliki kepentingan strategis terhadap Iran, terutama terkait akses ke Pelabuhan Chabahar sebagai jalur perdagangan menuju Asia Tengah. Elen menilai perubahan arah geopolitik Iran dapat memengaruhi kepentingan India di kawasan tersebut.
Sementara Rusia, menurut Elen, memandang Iran sebagai “buffer” strategis di wilayah selatan. Selama Iran tidak berada di bawah pengaruh Barat, Rusia dinilai masih memiliki alternatif akses logistik dan militer. Jika tidak, tekanan terhadap Moskow disebut bisa meningkat.
Pertarungan sistem keuangan global
Dimensi lain yang disorot Elen adalah posisi dolar AS. Ia menyebut Iran, Rusia, dan China mulai melakukan transaksi non-dolar untuk mengurangi ketergantungan terhadap USD. Jika sistem tersebut berkembang, Elen menilai permintaan dolar dapat menurun dan berpengaruh pada kemampuan pembiayaan defisit Amerika Serikat. Dalam kerangka ini, konflik dipandang tidak hanya berkaitan dengan militer, tetapi juga persaingan dominasi sistem keuangan global.
Potensi dampak ke Indonesia
Elen menilai dampak ke Indonesia bersifat struktural. Ia menyebut asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di sekitar USD 70 per barel. Jika harga melonjak ke kisaran USD 100–120 per barel, pemerintah dinilai akan menghadapi dua opsi yang sama-sama berat.
Pertama, menambah subsidi agar harga BBM tidak melonjak. Konsekuensinya, defisit anggaran berpotensi melebar dan penerbitan surat utang meningkat. Dalam skenario ini, Elen menilai terdapat risiko tekanan terhadap peringkat kredit. Jika peringkat kredit turun, ia memperkirakan dana asing bisa keluar, rupiah melemah, dan harga barang impor naik. Indonesia yang masih bergantung pada impor pangan dan bahan baku dinilai akan terdampak langsung.
Skenario kedua, harga BBM mengikuti pasar. Jika ini terjadi, Elen menilai ongkos logistik akan naik dan dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok serta inflasi inti.
Selain itu, Elen menyinggung bahwa 33% perdagangan pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Jika jalur ini terganggu, harga pupuk berpotensi naik, biaya tanam meningkat, dan harga beras dapat terdorong naik.
Elen juga memperkirakan efek berantai dapat menekan laba perusahaan, meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), serta mendorong kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) di perbankan.
Saran menghadapi ketidakpastian
Elen menekankan masyarakat tidak memiliki kendali atas konflik global, namun dapat memperkuat fondasi keuangan pribadi. Ia menyarankan memperkuat likuiditas, mengurangi utang konsumtif, menjaga arus kas, serta melakukan diversifikasi investasi. Dalam situasi tidak pasti, ia menilai prinsip bertahan lebih penting daripada mengejar keuntungan maksimal.
“Yang bertahan itu yang disiplin, bukan yang spekulatif,” tegasnya.
Elen menyimpulkan, Perang Dunia ke-3 belum tentu terjadi. Namun, dinamika geopolitik yang memanas menjadi pengingat bahwa ekonomi global saling terhubung, dan guncangan pada satu simpul dapat merambat hingga memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga.

