BRUSSELS — Ketegangan di antara sekutu-sekutu Barat kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikukuh mendorong pencaplokan Greenland, wilayah otonom yang menjadi bagian dari kedaulatan Denmark. Sikap itu memicu respons keras dari Uni Eropa (UE), yang kini mempertimbangkan langkah balasan berupa tarif terhadap barang-barang AS, menyusul ancaman Trump mengenakan tarif baru pada impor dari delapan negara yang menentang upayanya tersebut.
Sejumlah pemimpin Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia menyatakan ancaman tarif dapat merusak hubungan transatlantik dan berisiko memicu “spiral yang berbahaya”. Dalam pernyataan bersama, mereka menegaskan komitmen untuk menegakkan kedaulatan masing-masing.
Di tingkat UE, para diplomat utama menggelar pembicaraan krisis pada Ahad untuk membahas kemungkinan menghidupkan kembali rencana tarif balasan atas barang-barang AS senilai 93 miliar euro. Paket tarif tersebut sebelumnya ditangguhkan setelah adanya kesepakatan perdagangan pada musim panas lalu dengan Trump.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong para pemimpin Eropa agar mengaktifkan instrumen antipaksaan (anti-coercion instrument/ACI) UE, perangkat hukum yang disebut sebagai salah satu yang paling kuat namun sejauh ini belum pernah digunakan. Menurut laporan media Prancis, Macron menyebut UE dapat mengeluarkan “bazoka besar” bila ancaman tarif AS berlanjut. Instrumen antipaksaan memungkinkan UE menerapkan tindakan ekonomi yang bersifat menghukum terhadap negara yang berupaya memaksakan perubahan kebijakan.
Setelah perundingan AS-Denmark dilaporkan gagal pada pekan lalu, Ketua Dewan Eropa António Costa mengumumkan rencana pertemuan puncak darurat UE yang kemungkinan digelar pada Kamis. Costa menyatakan UE menunjukkan “kesiapan untuk membela diri terhadap segala bentuk pemaksaan”.
Sejumlah pejabat Eropa menilai ancaman tarif sebagai bentuk tekanan. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut kebijakan tarif Trump sebagai sebuah kesalahan. Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel juga menggambarkannya sebagai “pemerasan”.
Trump pada Ahad kembali menggandakan ancamannya terkait Greenland. Dalam unggahan di media sosial, ia mengklaim NATO telah mengatakan kepada Denmark selama 20 tahun bahwa negara itu harus menghadapi “ancaman Rusia” terhadap wilayah tersebut dan bahwa mereka “tidak dapat berbuat apa-apa.” Ia menambahkan: “Sekarang waktunya, dan itu akan terlaksana!!!”
Menurut sumber-sumber diplomatik, UE juga menimbang mengaktifkan kembali paket tarif balasan senilai 93 miliar euro yang mencakup bea masuk atas mobil, barang industri, serta makanan dan minuman dari AS. Namun, hingga kini UE belum mencapai kesepakatan mengenai langkah pembalasan. Seorang diplomat UE menyatakan belum ada pertanyaan untuk menerapkan ACI atau instrumen perdagangan lain terhadap AS. Paket tarif balasan itu disebut masih ditangguhkan hingga 6 Februari, dan beberapa sumber menekankan keinginan untuk tetap berdialog dengan Washington.
Diplomat UE lainnya menilai situasi dipandang sangat serius, terutama karena menyangkut prinsip-prinsip utama tatanan internasional seperti integritas teritorial.
Dalam pernyataan bersama, negara-negara terkait juga menyinggung latihan militer yang dipimpin Denmark, Arctic Endurance, sebagai wujud komitmen memperkuat keamanan “sebagai kepentingan bersama transatlantik” dan “tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun”. Trump menuduh negara-negara yang telah mengerahkan pasukan ke Greenland pada minggu lalu memainkan “permainan yang sangat berbahaya”. Ia menyatakan mereka akan dikenai tarif 10 persen mulai 1 Februari, yang meningkat menjadi 25 persen mulai 1 Juni.
Dalam unggahan Truth Social pada Sabtu, Trump mengatakan tarif akan diberlakukan “sampai kesepakatan tercapai untuk pembelian Greenland secara Menyeluruh dan Total”.
Isu Greenland disebut membayangi NATO dan memunculkan keraguan terhadap perjanjian perdagangan UE-AS yang ditandatangani pada Agustus lalu. Pemimpin Partai Rakyat Eropa di Parlemen Eropa, Manfred Weber, menulis di X bahwa “persetujuan tidak mungkin dilakukan pada tahap ini”, kesimpulan yang juga disebut telah dicapai oleh anggota parlemen dari Partai Sosialis dan Partai Hijau.
Macron menegaskan Eropa tidak akan mengubah arah dalam penolakannya terhadap pengambilalihan Greenland oleh AS. “Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan mempengaruhi kami – baik di Ukraina, atau di Greenland, atau di mana pun di dunia ketika kita dihadapkan dengan situasi seperti itu,” ujarnya pada Sabtu.
Dalam pernyataan bersama, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan António Costa menyebut tarif akan “merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan penurunan yang berbahaya”. Keduanya diketahui sedang berada di Paraguay untuk penandatanganan perjanjian perdagangan dengan empat negara Amerika Selatan dalam blok Mercosur ketika ancaman terbaru Trump muncul.
Presiden Finlandia Alexander Stubb menyatakan negara-negara Eropa bersatu mendukung Denmark dan Greenland, serta memperingatkan dampak tarif terhadap hubungan transatlantik. Sementara Wakil Kanselir Jerman Lars Klingbeil mengatakan Jerman akan membantu AS mencari solusi bersama, tetapi menegaskan, “kami tidak akan diperas, dan akan ada tanggapan dari Eropa.”

