Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, dinilai menimbulkan risiko serius terhadap operasional transportasi laut dan udara serta stabilitas rantai pasok global. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan biaya logistik dunia dalam waktu singkat.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi, yang disebut menyalurkan sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia. Kawasan ini juga menjadi penghubung penting jalur kontainer antara wilayah Timur dan Barat. Karena itu, setiap eskalasi di area tersebut dinilai dapat menimbulkan dampak sistemik terhadap biaya logistik global.
Senior Vice President Federation of International Freight Forwarders Associations (FIATA) Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan situasi di sekitar Selat Hormuz bersifat dinamis dan sangat fluktuatif. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi perubahan operasional pada jadwal pelayaran, kapasitas angkut, dan biaya logistik global.
“Gangguan navigasi, pengalihan rute kapal dan pesawat, serta lonjakan premi asuransi berpotensi menciptakan tekanan biaya logistik global dalam waktu singkat,” kata Yukki dalam siaran pers, Selasa, 3 Maret 2026.
Yukki menjelaskan terdapat tiga dampak langsung terhadap transportasi logistik dan rantai pasok global. Pertama, pada transportasi laut. Meningkatnya risiko keamanan disebut mendorong sejumlah kapal mengubah rute, menghentikan pelayaran, bahkan berbalik arah. Potensi penutupan jalur strategis juga dinilai dapat mengganggu jaringan pelayaran internasional, termasuk memicu kemacetan di pelabuhan alternatif akibat pengalihan arus kapal, serta meningkatkan war-risk premium dan surcharge operasional.
Kedua, pada transportasi udara. Pembatasan dan pengalihan jalur udara berpotensi membuat waktu transit lebih panjang dan konsumsi bahan bakar meningkat. Dampak lanjutannya dapat berupa keterbatasan kapasitas dan potensi kenaikan tarif kargo udara.
Ketiga, pada rantai pasok global. Gangguan distribusi energi, petrokimia, dan industri manufaktur disebut berpotensi memicu kenaikan biaya pengiriman (freight cost) global, ketidakpastian kontraktual, serta risiko keterlambatan pengiriman yang dapat berdampak pada sektor ritel dan pangan.
“Konflik ini berpotensi menjadi shock besar dalam rantai pasok global dengan dampak lanjutan terhadap inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi berbagai negara,” ujar Yukki.
Ia menambahkan, pelaku usaha dunia dan nasional perlu meningkatkan kewaspadaan dan segera beradaptasi terhadap risiko pada stabilitas transportasi laut dan udara global. FIATA, kata Yukki, menilai penguatan manajemen risiko perlu dilakukan, termasuk peningkatan kewaspadaan operasional, memastikan perlindungan dan negosiasi premi asuransi serta kejelasan kontrak, memperkuat komunikasi dengan pelanggan, melakukan koordinasi internasional, serta menyiapkan alternatif rute dan solusi multimoda demi menjaga stabilitas ekonomi global.

