SEMARANG — Harga emas menunjukkan tren kenaikan signifikan dalam setahun terakhir seiring meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah. Dalam periode satu tahun, harga emas tercatat naik hingga 85 persen, membuat komoditas ini kembali dilirik sebagai instrumen investasi yang dinilai relatif aman.
Ketua Lembaga Pendidikan dan Pasar Modal Investa Semarang, Hari Prabowo, mengatakan emas pada dasarnya dipandang sebagai faktor keamanan. Menurutnya, situasi global yang semakin tidak menentu mendorong investor beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.
“Substansinya, pada dasarnya, emas merupakan faktor keamanan, ya. Jadi, semakin tidak menentu kondisi keamanan karena perang terjadi, itu yang menimbulkan kecemasan dan ketidakpastian sehingga harga emas melambung cukup tinggi,” kata Hari Prabowo saat diwawancarai, Rabu, 4 Maret 2026.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Bayu Bagas Hapsoro, menilai kenaikan harga emas juga mencerminkan melemahnya daya beli mata uang. Ia menyoroti potensi dampak konflik di Iran terhadap jalur perdagangan dunia, terutama karena peran strategis Selat Hormuz.
“Yang perlu dikhawatirkan adalah, Iran ini ‘kan merupakan otoritas yang mengendalikan Selat Hormuz. Dua puluh persen lalu lintas dunia lewat di situ,” ungkap Bayu.
Bayu menekankan pentingnya kewaspadaan dalam menyikapi dinamika global. Ia mendorong masyarakat mempertimbangkan alternatif investasi yang lebih aman, sekaligus mengimbau agar tidak panik menghadapi gejolak ekonomi. Menurutnya, keputusan investasi tetap perlu dilakukan secara rasional dan terukur di tengah ketidakpastian yang berlangsung.

