JAKARTA — Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, mulai dari Timur Tengah, konflik di Eropa Timur, hingga rivalitas kekuatan besar di Asia Pasifik, membuat pembahasan tentang risiko krisis global kembali menguat. Jika ketidakstabilan berlangsung lama atau eskalasi konflik meluas, dampaknya berpotensi langsung terasa pada ekonomi rumah tangga, terutama melalui tekanan harga dan ketersediaan barang.
Dalam situasi seperti itu, perhatian publik bergeser pada langkah-langkah bertahan secara finansial. Fokusnya bukan pada perdebatan politik global, melainkan pada upaya melindungi tabungan, aset, dan sumber penghasilan dari ancaman inflasi tinggi serta gangguan rantai pasok.
Sejumlah pengalaman historis menunjukkan bahwa saat perang besar atau krisis meluas terjadi, tantangan ekonomi yang kerap muncul adalah lonjakan inflasi dan tersendatnya distribusi barang. Ketika jalur perdagangan terganggu, barang dapat menjadi langka dan harga berpotensi naik tajam.
Melunasi utang konsumtif berbunga tinggi
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mengaudit kondisi keuangan dan memprioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi. Dalam masa krisis, bank sentral kerap menaikkan suku bunga untuk menahan laju inflasi. Kondisi ini dapat berdampak pada cicilan berbunga mengambang, seperti kartu kredit atau kredit pemilikan rumah (KPR), yang berisiko meningkat.
Posisi tanpa utang konsumtif memberikan ruang gerak arus kas yang lebih longgar. Ketika pendapatan tertekan akibat perlambatan ekonomi atau risiko pemutusan hubungan kerja, beban cicilan yang lebih kecil membuat pengeluaran dapat lebih difokuskan pada kebutuhan pokok.
Memperkuat dana darurat dan menyebar likuiditas
Di kondisi normal, dana darurat umumnya ditargetkan setara 3–6 bulan pengeluaran. Namun, dalam skenario krisis global berkepanjangan, target yang disebut ideal meningkat menjadi 6–12 bulan pengeluaran.
Selain besarnya dana, lokasi penyimpanan juga menjadi perhatian. Risiko serangan siber dan gangguan sistem perbankan membuat sebagian pihak menyarankan agar sekitar 10–20 persen dana darurat disimpan dalam bentuk uang tunai fisik, terutama pecahan kecil agar lebih mudah dipakai saat transaksi darurat. Likuiditas juga disarankan tidak terkonsentrasi pada satu bank atau satu instrumen, untuk mengurangi risiko ketika terjadi gangguan pada satu sistem.
Mempertimbangkan aset keras seperti emas
Emas batangan atau koin bersertifikat dalam pecahan kecil disebut lebih disarankan dibanding perhiasan, karena dinilai lebih mudah diperjualbelikan. Pecahan 1–5 gram disebut lebih likuid dalam kondisi krisis. Meski demikian, alokasi tetap perlu dibatasi, sekitar 10–20 persen portofolio, mengingat emas tidak menghasilkan arus kas.
Selain emas, aset keras lain seperti tanah produktif di luar kota disebut memiliki nilai strategis. Dalam situasi perang, wilayah dengan sumber air dan lahan pertanian dinilai dapat lebih mendukung ketahanan pangan, sementara kota besar dianggap lebih rentan terhadap tekanan inflasi dan gangguan energi.
Membangun stok kebutuhan rumah tangga secara terukur
Krisis global kerap diikuti kenaikan harga bahan pokok. Strategi yang disarankan bukan panic buying, melainkan membangun persediaan berputar untuk 1–3 bulan kebutuhan. Barang yang diprioritaskan antara lain beras, minyak goreng, makanan kaleng, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan.
Prinsipnya adalah membeli barang yang memang dikonsumsi sehari-hari. Dengan stok yang dibeli pada harga sebelumnya, keluarga dapat memiliki bantalan saat terjadi lonjakan harga mendadak.
Mencermati sektor yang lebih defensif
Dalam tekanan konflik dan ketidakpastian, sektor-sektor defensif seperti consumer goods, energi, komoditas, dan utilitas disebut cenderung lebih tahan. Kebutuhan konsumsi primer tetap dibutuhkan, sementara energi dan bahan baku dapat mengalami peningkatan permintaan ketika tensi konflik meningkat.
Di sisi lain, sektor pariwisata, perhotelan, maskapai, dan barang mewah dinilai lebih rentan karena permintaan berpotensi turun tajam saat daya beli melemah dan mobilitas terganggu.
Keahlian dan komunitas sebagai penopang
Di luar aset finansial, keahlian disebut sebagai salah satu “aset” yang paling tahan terhadap inflasi. Hard skills seperti mekanik, servis elektronik, pertanian rumahan, hingga pertolongan pertama dapat menjadi lebih bernilai ketika impor terhambat atau akses layanan tertentu terbatas.
Modal sosial juga dinilai penting. Komunitas yang solid memungkinkan saling bantu dan barter saat sistem formal mengalami gangguan. Dalam situasi krisis, gotong royong dapat menjadi jaring pengaman yang melengkapi ketahanan finansial keluarga.

