Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchlas, mengingatkan pentingnya mengarahkan resolusi hidup seorang muslim tidak hanya pada pencapaian duniawi, tetapi juga pada tujuan ukhrawi. Pesan itu disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Jumat (02/01).
Dalam khutbahnya, Muchlas menilai resolusi yang berorientasi pada harta, jabatan, karier, dan keberhasilan materi merupakan hal yang wajar serta diperbolehkan dalam Islam, selama ditempatkan secara proporsional. Namun, ia menegaskan Islam hadir untuk meluruskan arah dan tujuan hidup seorang mukmin agar tidak berhenti pada kepentingan dunia semata.
“Islam mengajarkan pentingnya resolusi ukhrawi, yaitu tekad menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan tanpa mengabaikan tanggung jawab dan peran kita di dunia,” ujar Muchlas.
Ia mengutip Surah Al-Qasas ayat 77, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” Menurutnya, ayat tersebut menegaskan keseimbangan antara orientasi akhirat dan tanggung jawab duniawi.
Muchlas juga menekankan bahwa salah satu resolusi paling mulia bagi setiap muslim adalah tekad menjadi insan yang semakin kaya manfaat. Pribadi yang kaya manfaat, menurutnya, adalah sosok yang kehadirannya dirasakan, ucapannya menentramkan, perbuatannya membawa kebaikan, serta hidupnya memberi nilai bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Ia menegaskan Islam tidak hanya membimbing umatnya agar saleh secara pribadi, tetapi juga mendorong kesalehan sosial yang menghadirkan rahmat dan keselamatan bagi sesama. Hal itu, kata Muchlas, selaras dengan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan ath-Thabrani, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Dalam khutbah tersebut, Muchlas memaparkan tiga langkah utama agar resolusi ukhrawi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar terimplementasi dalam kehidupan nyata.
Pertama, meluruskan niat dalam setiap amal. Menurutnya, resolusi ukhrawi dimulai dari hati. Setiap aktivitas—mulai dari ibadah, bekerja, mencari nafkah, mengajar, bertani, melaut, hingga kegiatan sosial—hendaknya diniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt. Ia mengutip sabda Rasulullah Saw., “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya,” seraya menegaskan niat yang lurus dapat menjadikan amal yang biasa bernilai luar biasa di sisi Allah.
Kedua, memperbaiki dan menjaga kualitas amal. Muchlas menyampaikan bahwa resolusi ukhrawi tidak menuntut amal yang besar dan berat, melainkan amal yang benar, ikhlas, dan dilakukan secara istiqamah. Ia mengingatkan bahwa sedikit amal yang dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah dibandingkan banyak amal yang terputus di tengah jalan. Istiqamah, katanya, membuat seorang mukmin kokoh dalam iman dan stabil dalam beramal, tidak mudah goyah oleh perubahan zaman dan godaan dunia. Dalam bagian ini, ia mengutip Surah Al-Ahqaf ayat 13 tentang keutamaan istiqamah bagi orang-orang beriman.
Ketiga, memperluas manfaat bagi sesama. Menurut Muchlas, langkah ini menjadi puncak resolusi ukhrawi. Manfaat dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk, seperti ilmu, tenaga, harta, akhlak, maupun doa. Namun, ia mengingatkan resolusi tersebut akan terwujud dengan baik apabila seseorang telah mampu meluruskan niat, menata hati, dan menjaga konsistensi dalam beramal.
“Manfaat yang bersumber dari niat yang ikhlas dan amal yang konsisten akan terus mengalir dan memberi pengaruh kebaikan yang luas,” tuturnya.
Menutup khutbah, Muchlas berharap awal tahun 2026 menjadi momentum bagi umat Islam untuk diberi kekuatan agar istiqamah menjalankan resolusi ukhrawi. Dengan demikian, hidup tidak sekadar berjalan mengikuti waktu, melainkan bergerak menuju tujuan yang jelas, menjadikan dunia sebagai ladang amal dan akhirat sebagai tempat kembali yang diharapkan dengan keyakinan.

