BERITA TERKINI
Klaim Listrik Padam dan Internet Mati 7 Hari akibat Krisis Global Viral di Medsos, Ini Hasil Penelusuran Faktanya

Klaim Listrik Padam dan Internet Mati 7 Hari akibat Krisis Global Viral di Medsos, Ini Hasil Penelusuran Faktanya

Media sosial ramai oleh unggahan yang mengklaim Indonesia akan mengalami pemadaman listrik hingga tujuh hari disertai matinya akses internet akibat krisis global yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran. Kabar tersebut memicu kepanikan dan memunculkan beragam reaksi warganet.

Unggahan itu dibagikan akun Facebook “Tombol Berita Viral” sejak Jumat (16/1/2026) dengan menampilkan video Komjen Pol (Purn) Dharma Pongrekun dan narasi peringatan agar masyarakat bersiap menghadapi situasi darurat. Hingga Rabu (21/1/2026), unggahan tersebut telah menyebar luas.

Berdasarkan penelusuran, isu “blackout” atau “darurat tujuh hari” merujuk pada pernyataan Dharma Pongrekun dalam sebuah podcast yang ramai diperbincangkan pada awal 2026. Namun, narasi itu bukan berasal dari kebijakan resmi pemerintah.

Dalam podcast yang disiarkan langsung pada Jumat (9/1/2026), Dharma menyampaikan skenario terburuk yang menurutnya bisa terjadi secara tiba-tiba. Pada menit 1:24:50, ia mengimbau masyarakat menyiapkan diri menghadapi kondisi darurat selama tujuh hari, termasuk kemungkinan listrik mati, layanan ATM terganggu, hingga dampak lanjutan seperti padamnya pendingin ruangan dan terganggunya pasokan air bersih yang bergantung pada pompa atau layanan tertentu.

Pernyataan tersebut kemudian dipotong dan disebarkan dengan tambahan narasi seolah-olah krisis itu dipastikan terjadi akibat perang AS dan Iran. Padahal, dalam podcast tersebut tidak ada pernyataan yang menyebut pemadaman listrik disebabkan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dharma memang menyinggung contoh sejumlah negara Eropa seperti Belanda dan Jerman yang memiliki panduan menghadapi kondisi darurat. Penelusuran juga menemukan laporan pemadaman listrik di Belanda, salah satunya di Amsterdam pada Rabu (14/1/2026). Namun, peristiwa itu dilaporkan terjadi akibat ledakan di instalasi distribusi listrik di kawasan Marnixstraat, bukan karena perang atau krisis geopolitik global.

Pemerintah Belanda sebelumnya membagikan buku panduan bertahan hidup selama 72 jam tanpa listrik. Panduan tersebut ditujukan untuk menghadapi kondisi darurat lokal, bukan terkait ancaman konflik internasional.

Sementara itu, pemadaman listrik dan pembatasan internet memang dilaporkan terjadi di Iran. Mengutip laporan CNBC Indonesia, pemerintah Iran menerapkan pemadaman listrik bergilir secara nasional sejak akhir 2024 hingga 2025 akibat krisis energi. Pembatasan internet juga dilakukan untuk mengendalikan komunikasi pihak-pihak tertentu. Namun, situasi tersebut bersifat lokal dan tidak disebut berdampak langsung pada Indonesia.

Hingga kini, tidak ada keterangan resmi dari pemerintah Indonesia maupun PT PLN (Persero) yang menyebut akan terjadi pemadaman listrik nasional selama tujuh hari atau penghentian akses internet secara massal. Penelusuran lebih lanjut juga tidak menemukan pernyataan dari lembaga negara yang mengonfirmasi klaim tersebut, termasuk peringatan darurat, kebijakan, atau pengumuman resmi terkait ancaman krisis listrik akibat konflik global.

Dengan demikian, klaim yang menyebut Indonesia akan mengalami pemadaman listrik selama tujuh hari dan internet mati karena perang Amerika Serikat dan Iran tidak memiliki dasar fakta yang kuat. Pernyataan Dharma Pongrekun dalam podcast tidak berkaitan dengan konflik AS-Iran, melainkan berupa imbauan umum agar masyarakat siap menghadapi kemungkinan kondisi darurat yang dapat terjadi kapan saja.