BERITA TERKINI
Koleksi 1.400 Karya di Ballarat: Peran Konfir Kabo dan Project Eleven dalam Diplomasi Budaya Indonesia

Koleksi 1.400 Karya di Ballarat: Peran Konfir Kabo dan Project Eleven dalam Diplomasi Budaya Indonesia

Pagi Rabu, 11 Februari 2026, perjalanan dari Stasiun Southern Cross di pusat Kota Melbourne mengarah ke Ballarat, kota kecil sekitar 110 kilometer di sebelah barat Melbourne, Australia. Dalam perjalanan kereta selama 1 jam 45 menit, seniman asal Makassar Abdi Karya bersama seorang jurnalis didampingi Mara Sison, kurator dan peneliti seni asal Filipina yang telah lebih dari dua dekade menetap di Australia.

Setibanya di Ballarat—kota yang dikenal sebagai salah satu pusat demam emas (Gold Rush) pada pertengahan 1800-an—jejak arsitektur kolonial tampak di berbagai sudut. Kota seluas 343 kilometer persegi dengan populasi sekitar 121 ribu jiwa itu memiliki destinasi wisata ikonik seperti Sovereign Hill, kawasan yang merekonstruksi kehidupan penambang emas abad ke-19. Namun, tujuan kunjungan kali ini bukan lokasi wisata, melainkan sebuah gudang penyimpanan ribuan karya seni Indonesia.

Gudang tersebut menyimpan koleksi milik Konfir Kabo, salah satu kolektor terbesar seni Indonesia. Saat pintu dibuka, ruang besar menyerupai gudang itu menampilkan keragaman karya: lukisan, patung kayu dan batu, kain tenun, rajutan, patung kaca, hingga instalasi. Sebagian besar karya yang tersusun di dalamnya merupakan karya seniman Indonesia.

Mara Sison, yang sejak 2021 menjabat sebagai Collection Manager di Project Eleven, menyebut jumlah koleksi di gudang itu mencapai sekitar 1.400 karya. Sekitar 90 persen di antaranya merupakan karya seniman Indonesia, di luar koleksi lain yang disimpan di kediaman pribadi Konfir di Melbourne.

Project Eleven merupakan institusi seni internasional yang didirikan Konfir Kabo bersama istrinya, Monica Lim. Berbasis di Australia, organisasi ini mendukung seniman, program, dan proyek seni yang dinilai memberi dampak bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia di tingkat internasional. Kegiatannya mencakup pengoleksian karya, dukungan terhadap pameran dan pertunjukan, riset, serta pendidikan seni.

Koleksi yang dikelola tidak diposisikan sebagai arsip pasif. Menurut penjelasan Mara, karya-karya tersebut diaktifkan melalui kerja sama kuratorial, peminjaman untuk pameran, hingga komisi karya baru. Sejumlah institusi dan ajang internasional pernah menampilkan karya dari koleksi ini, antara lain Museo de Arte Contemporaneo de Roma di Italia, Asia Pacific Triennial di Brisbane, Indian Ocean Craft Triennial, serta Multicultural Arts Victoria dalam program “Mapping Melbourne”. Di Indonesia, karya-karya dari koleksi ini juga hadir dalam ajang seperti ARTJOG, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, hingga Sydney Biennale.

Konfir Kabo lahir di Makassar pada 1973 dan menetap di Australia sejak 1988. Ia berprofesi sebagai pengacara dan pengusaha, mendirikan firma hukum pada 2001, serta mengelola bisnis properti dan investasi. Perjalanan koleksinya bermula dari pembelian karya Maria Indria Sari berjudul I Am Big, You Are Small pada 2001, yang menggambarkan figur ibu dan anak. Karya tersebut disebut memiliki kedekatan emosional bagi Konfir dan menjadi awal komitmennya mengoleksi seni rupa kontemporer Indonesia.

Seiring waktu, koleksinya berkembang mencakup karya seniman senior maupun generasi muda. Di antaranya FX Harsono, Tisna Sanjaya, Heri Dono, I Gak Murniasih, Eko Nugroho, serta seniman dan kolektif yang lebih muda seperti Kultura Collectiva, Udeido, Mulyana, dan Citra Sasmita.

Mara menjelaskan, tidak ada formula khusus dalam proses pengumpulan karya. Konfir memperoleh karya melalui kunjungan ke pameran seni di Indonesia, mendatangi studio seniman, menerima penawaran langsung dari seniman, hingga mengoleksi karya yang diproduksi dalam program yang didukung Project Eleven.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana koleksi seni pribadi dapat berfungsi lebih luas daripada sekadar kepemilikan. Melalui pengoleksian karya seniman yang masih hidup dan terus berkembang, koleksi dapat menjadi ruang dialog dan kolaborasi yang ikut menjaga relevansi seni dalam merespons isu sosial, politik, dan budaya yang berubah. Relasi yang terbangun pun digambarkan melampaui transaksi jual-beli, menjadi jejaring antara seniman, kolektor, kurator, institusi, dan publik.

Dari kunjungan singkat ke gudang koleksi di Ballarat, terlihat bagaimana aktivasi koleksi seni pribadi dapat berperan sebagai instrumen diplomasi budaya. Upaya ini membuka ruang pertukaran dan kolaborasi lintas negara, sekaligus memperluas pengenalan publik internasional terhadap dinamika seni rupa kontemporer Indonesia.