BERITA TERKINI
Konflik AS–Israel dan Iran Meluas, Sejumlah Sekutu Washington Enggan Terlibat

Konflik AS–Israel dan Iran Meluas, Sejumlah Sekutu Washington Enggan Terlibat

Konflik militer antara koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran yang disebut berlangsung sejak 28 Februari 2026 dilaporkan semakin meluas. Perkembangan terbaru juga melibatkan kelompok-kelompok yang disebut sebagai proksi Iran di sejumlah wilayah.

Di Lebanon, Hizbullah dilaporkan menyerang kota Haifa di Israel dengan rudal. Israel kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke Lebanon. Sementara itu di Irak, kelompok Brigade Darah disebut menyerang Israel menggunakan drone.

Di tengah eskalasi tersebut, belum terlihat bantuan langsung dari sebagian sekutu AS lainnya. Dalam laporan yang sama, Prancis disebut berpotensi terlibat dengan mengirim kapal induk Charles de Gaulle ke kawasan Mediterania, dengan alasan melindungi aset dan warganya.

Namun, beberapa sekutu dekat AS justru menyatakan tidak akan membantu Washington dalam perang tersebut. Inggris dan Spanyol disebut menyatakan penolakan, bahkan Spanyol dilaporkan melarang pangkalan udara di wilayahnya digunakan oleh militer AS untuk operasi perang.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan merespons dengan kemarahan dan mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol. Ia juga disebut menyatakan bahwa meskipun ditolak, jika AS ingin masuk ke wilayah Spanyol, mereka tetap akan melakukannya.

Dari pihak pemerintah AS, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan Iran tidak akan mampu memenangkan perang melawan AS dan menyebut konflik ini sebagai permulaan. Pernyataan tersebut menuai kritik dari Senator Chuck Schumer dari Partai Demokrat.

Dalam analisis yang disampaikan Marsda (Pur) Prayitno Ramelan, konflik di Timur Tengah diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu cepat. Iran disebut bersikukuh tidak akan berdamai.

Sejumlah pengamat, menurut analisis tersebut, memperkirakan bahwa jika Iran benar-benar hancur, Israel serta beberapa negara di kawasan Teluk juga berpotensi mengalami kehancuran besar.

Analisis itu juga menilai perang yang meletus pada akhir Februari di Timur Tengah terkait dengan ambisi hegemoni AS untuk menjadi satu-satunya kekuatan dominan di dunia.