BERITA TERKINI
Konflik AS-Israel-Iran Angkat Laba Logistik Eropa pada Awal 2026, Risiko Jangka Panjang Mengintai

Konflik AS-Israel-Iran Angkat Laba Logistik Eropa pada Awal 2026, Risiko Jangka Panjang Mengintai

Perusahaan logistik Eropa diperkirakan mencatat peningkatan laba pada kuartal I-2026, ditopang oleh meningkatnya kompleksitas rantai pasok global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Namun, sejumlah analis menilai ketidakpastian geopolitik serta guncangan harga energi berpotensi menekan prospek sektor ini dalam jangka lebih panjang.

Sejumlah pemain besar seperti DHL, DSV, dan Kuehne+Nagel dinilai menjadi pihak yang diuntungkan ketika jalur perdagangan utama terganggu. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan pengalihan rute dan penyesuaian distribusi biasanya mendorong kenaikan tarif serta margin keuntungan perusahaan logistik.

Meski demikian, analis mengingatkan bahwa dampak lanjutan dari lonjakan harga energi dan pelemahan ekonomi global dapat menekan permintaan jasa logistik pada paruh kedua tahun ini.

Dari sisi kinerja perusahaan, analis Jefferies menyebut manajemen Kuehne+Nagel tidak memperkirakan adanya tekanan tambahan terhadap tarif angkutan laut maupun udara pada kuartal pertama. Penilaian tersebut memperkuat pandangan bahwa kinerja perusahaan mulai stabil dan berpotensi membaik.

Jefferies juga menyoroti bahwa periode gejolak geopolitik secara historis kerap memicu peralihan pengiriman dari jalur laut ke udara (sea-to-air spillover). Kondisi ini dinilai memberi keunggulan struktural bagi DHL.

Sementara itu, analis Bernstein memperkirakan volume kargo udara akan tumbuh pada kisaran satu digit tinggi pada kuartal ini. Sebaliknya, volume pengiriman laut diprediksi hanya meningkat pada kisaran satu digit rendah secara tahunan.

Pertumbuhan pengiriman laut dinilai tertahan oleh efek basis tinggi, setelah banyak pengirim barang mempercepat pengiriman sebelum penerapan tarif impor Amerika Serikat pada April 2025.

Perhatian pasar juga mengarah pada agenda capital markets day DSV pada 12 Mei, ketika investor menantikan pembaruan target keuangan jangka menengah. Bernstein menilai peluang munculnya kejutan positif dalam agenda tersebut cukup besar.

Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah memperburuk kondisi logistik global. Banyak kapal dilaporkan menghindari Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dan barang, sehingga ketidakpastian distribusi global semakin dalam.

Gangguan ini turut mendorong lonjakan biaya kargo udara, seiring meningkatnya permintaan, tingginya harga bahan bakar jet, serta keterbatasan kapasitas akibat gangguan yang berkepanjangan.

Dampak ketegangan juga meluas ke kawasan lain. Risiko yang meningkat di Laut Merah dinilai memperlambat normalisasi jalur pelayaran melalui Terusan Suez.

Ekonom senior ING Research, Rico Luman, memperkirakan pemulihan penuh jalur pelayaran kemungkinan tertunda beberapa bulan, bahkan hingga akhir tahun. Dalam jangka pendek, kondisi ini justru dapat mendukung kinerja perusahaan logistik.

Perubahan rute juga terjadi pada perusahaan pelayaran global. Maersk dan Hapag-Lloyd disebut telah mengalihkan rute kapal melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan sejak konflik pecah. Peralihan ini menjaga tarif angkutan tetap tinggi dan meningkatkan margin perusahaan karena struktur biaya yang relatif tetap.

Namun demikian, analis menilai normalisasi pasar logistik global tidak akan berlangsung cepat, bahkan jika konflik mereda, sehingga risiko terhadap permintaan dan biaya energi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.