BERITA TERKINI
Konflik AS-Israel-Iran Dinilai Berisiko Picu Krisis Global, Ini Dampak yang Diwaspadai dan Langkah Antisipasi

Konflik AS-Israel-Iran Dinilai Berisiko Picu Krisis Global, Ini Dampak yang Diwaspadai dan Langkah Antisipasi

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai tidak hanya menjadi isu geopolitik regional, tetapi juga berpotensi memicu krisis global yang berdampak ke berbagai negara. Sejumlah akademisi menilai dampaknya dapat merembet ke sektor keuangan, energi, dan perdagangan, termasuk bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Para pakar menyoroti sejumlah risiko utama yang dapat muncul apabila eskalasi konflik berlanjut, mulai dari lonjakan harga energi hingga meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Lonjakan harga energi dan minyak

Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia. Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya, Satria Unggul Wicaksana, menjelaskan bahwa ancaman lonjakan harga energi secara global dapat terjadi karena jalur distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia melewati Selat Hormuz yang berada di bawah pengaruh Iran. Jika Iran melakukan blokade jalur tersebut, pasokan energi dunia berisiko terganggu.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Nur Rianto Al Arif, juga menekankan bahwa konflik di Timur Tengah kerap diikuti kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, kenaikan harga minyak tidak hanya memengaruhi harga BBM, tetapi juga biaya transportasi, harga pangan, biaya produksi industri, serta tarif logistik.

Tekanan inflasi bagi negara berkembang

Kenaikan harga energi berpotensi memicu penyesuaian harga di berbagai sektor. Negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, dapat menghadapi tekanan tambahan. Mohammad Nur Rianto Al Arif menyebut negara berkembang berisiko mengalami defisit neraca perdagangan yang melebar, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta membengkaknya beban subsidi energi. Jika inflasi meningkat, daya beli masyarakat dapat menurun, terutama pada kelompok kelas menengah dan kelompok rentan.

Ketidakpastian ekonomi global

Situasi geopolitik yang tidak stabil juga dinilai meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap aman seperti emas dan dolar AS. Perubahan preferensi tersebut dapat memicu gejolak pasar saham, mendorong arus modal asing keluar dari negara berkembang, dan menekan nilai tukar.

Mohammad Nur Rianto Al Arif menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian global sensitif terhadap guncangan geopolitik. Dalam jangka pendek, dunia berpotensi menghadapi ketidakpastian ekonomi, sementara dalam jangka menengah arah konflik akan menentukan apakah dampaknya hanya sementara atau bisa menjadi pemicu perlambatan global yang lebih dalam.

Langkah yang disarankan untuk dipersiapkan

Di tengah ketidakpastian yang mungkin terjadi, sejumlah langkah antisipasi untuk individu dan keluarga kerap disarankan agar kondisi finansial lebih siap menghadapi tekanan ekonomi.

Pertama, memperkuat dana darurat. Dana darurat idealnya mencakup kebutuhan hidup selama 3–6 bulan pengeluaran rutin untuk mengantisipasi lonjakan biaya hidup.

Kedua, mengevaluasi manajemen keuangan. Pengeluaran konsumtif yang tidak mendesak dapat dikurangi, utang berbunga tinggi diprioritaskan untuk segera dilunasi, dan kebutuhan pokok didahulukan dibanding keinginan.

Ketiga, mempertimbangkan sumber pendapatan tambahan. Pekerjaan sampingan atau sumber penghasilan lain dapat menjadi penopang ketika ketidakpastian ekonomi meningkat.

Keempat, menyiapkan uang tunai. Uang tunai dapat menjadi pegangan apabila terjadi gangguan jaringan yang memengaruhi sistem digital pada situasi krisis.

Kelima, lebih cermat dalam memilih investasi. Dalam kondisi tidak pasti, diversifikasi aset kerap disarankan agar dana tidak bertumpu pada satu instrumen saja. Contoh yang disebut antara lain emas, properti, reksa dana, atau aset kripto, dengan catatan pemilihan produk perlu dilakukan secara hati-hati.