JAKARTA — Konflik global di berbagai wilayah, mulai dari perang Rusia–Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah, turut memengaruhi kondisi pangan dunia. Gangguan rantai pasok yang dipicu meningkatnya tensi geopolitik membuat dampak konflik tidak berhenti pada ranah politik dan keamanan, tetapi merembet ke sektor kebutuhan pokok yang dirasakan masyarakat hingga tingkat rumah tangga.
Rusia dan Ukraina selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi pangan dunia, terutama untuk komoditas gandum, jagung, dan minyak bunga matahari. Ketika konflik terjadi, aktivitas produksi menghadapi hambatan dan distribusi ekspor terganggu, sehingga pasokan ke pasar global tidak berjalan normal.
Di saat yang sama, sejumlah negara produsen lain mulai membatasi ekspor untuk menjaga ketersediaan di dalam negeri. Kombinasi gangguan produksi, tersendatnya distribusi, dan pembatasan ekspor tersebut memicu kenaikan harga pangan global secara signifikan.
Kenaikan harga di tingkat global kemudian memunculkan efek berantai yang pada akhirnya dirasakan di tingkat rumah tangga. Situasi ini membuat tekanan terhadap belanja kebutuhan pokok meningkat, seiring harga pangan yang terdorong naik akibat ketidakpastian pasokan dan distribusi.