Cadangan minyak di Asia dan Eropa dinilai dapat menahan dampak langsung konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Namun, para analis memperingatkan bahwa jika konflik berlangsung lama, pasar energi global berisiko menghadapi gangguan besar yang dapat memicu lonjakan harga.
Wilayah Teluk menjadi pusat kekhawatiran karena perannya yang krusial dalam pasokan energi dunia. Arab Saudi merupakan produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, sementara Iran termasuk dalam 10 besar produsen. Di sisi gas, Qatar—meski berukuran kecil—adalah pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA) juga termasuk produsen utama.
Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi gerbang utama keluar-masuk Teluk. Selat ini dilaporkan sebagian besar lumpuh akibat kekerasan di kawasan. Dalam kondisi normal, sekitar 20 juta barel minyak—sekitar seperlima konsumsi global—melewati Selat Hormuz setiap hari. Jalur yang sama juga vital bagi LNG: ekspor LNG dari Qatar dan UEA, yang bersama-sama mencakup sekitar 20 persen ekspor global, harus melintasi titik hambatan tersebut.
Dampak terbesar diperkirakan dirasakan Asia. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sekitar 80 persen minyak dan hampir 90 persen gas yang transit melalui Hormuz ditujukan ke negara-negara Asia. China, sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, mendapatkan hampir setengah impor minyaknya dari negara-negara Teluk. India juga sangat bergantung pada minyak mentah dari Irak dan Arab Saudi, terlebih setelah Amerika Serikat menekannya untuk mengurangi pembelian minyak Rusia.
Eropa dinilai lebih terlindungi dari sisi minyak karena pasokan yang lebih terdiversifikasi, termasuk dari Amerika Serikat, Norwegia, Afrika, dan Kazakhstan. Namun, Eropa menjadi lebih rentan pada gas karena pergeseran besar ke LNG sejak perang di Ukraina. Kini, 80 persen impor LNG Eropa bergantung pada tiga pemasok utama: Amerika Serikat, Rusia, dan Qatar.
Qatar sendiri menyumbang sekitar delapan persen dari impor LNG Uni Eropa. Karena pasar LNG terkonsentrasi pada segelintir eksportir, gangguan pasokan dapat cepat memicu gejolak harga. Selain itu, karena Asia juga merupakan konsumen LNG utama, Eropa berisiko masuk dalam persaingan langsung dengan Asia jika LNG Qatar tidak dapat diakses. “Harga akan lebih tinggi karena Eropa akan mengimpor gas lain yang berasal dari tempat lain,” kata Adi Imsirovic, direktur konsultan Surrey Clean Energy, kepada AFP.
Harga gas acuan TTF Eropa juga dilaporkan melonjak sejak awal pekan, setelah QatarEnergy milik negara menyatakan pada Senin bahwa mereka menangguhkan produksi LNG akibat pemogokan.
Di tengah risiko gangguan, sejumlah rute alternatif memang tersedia untuk minyak, seperti pipa Arab Saudi dan UEA yang dapat menghindari Selat Hormuz. Namun kapasitasnya terbatas, dan untuk LNG tidak ada rute alternatif. Meski begitu, sejumlah negara memiliki bantalan pasokan melalui cadangan strategis. Negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah darurat, sementara China diperkirakan menyimpan sekitar 400 juta barel dalam cadangan strategisnya, menurut kelompok analisis Kpler.
“Minyak ini ada di luar sana. Minyak ini tidak akan hilang,” kata Imsirovic. Ia menilai cadangan tersebut menjadi penyangga besar untuk beberapa minggu ke depan, yang membantu menjelaskan mengapa pasar belum menunjukkan kepanikan.
Namun, ketidakpastian meningkat dalam jangka lebih panjang. Simone Tagliapietra dari lembaga think tank Bruegel Institute mengatakan dampak jangka panjang pada harga energi akan bergantung pada lamanya permusuhan dan seberapa besar dampaknya terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz. Menurutnya, konflik singkat akan menambah premi risiko geopolitik pada pasar minyak dan gas. Sebaliknya, gangguan berkepanjangan dapat mengikis persediaan, membatasi logistik, dan memperketat keseimbangan minyak dan gas global, sehingga dampaknya terhadap harga bisa jauh lebih besar.
Lembaga pemeringkat kredit Moody’s menyebut skenario dasarnya adalah konflik tersebut akan “relatif singkat, kemungkinan hanya beberapa minggu”. Setelah itu, menurut penilaian mereka, “navigasi melalui Selat Hormuz akan kembali normal dalam skala besar.”

