BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan Mata Uang Komoditas dan Ubah Peta Valuta Global

Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan Mata Uang Komoditas dan Ubah Peta Valuta Global

Konflik di Timur Tengah memicu perubahan baru dalam dinamika pasar valuta asing global, seiring lonjakan harga komoditas dan kekhawatiran atas pasokan energi mendorong penguatan sejumlah mata uang yang terkait erat dengan ekspor bahan mentah. Kelompok yang kerap disebut “mata uang komoditas” mencatat apresiasi sepanjang 2026, menonjol di tengah volatilitas pasar dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Di antara negara-negara maju kelompok G10, krone Norwegia dan dolar Australia menjadi dua mata uang dengan kinerja terbaik. Keduanya tercatat naik lebih dari 7% terhadap dolar AS sejak awal tahun. Tren ini terjadi ketika konflik di Timur Tengah memicu gangguan pasokan energi global yang disebut sebagai yang terburuk dalam sejarah, dengan efek berantai ke berbagai perekonomian.

Sejumlah investor menilai penguatan mata uang komoditas masih berpotensi berlanjut. Mereka melihat tatanan global yang kian terfragmentasi—yang dipercepat oleh kecenderungan Amerika Serikat terhadap tindakan unilateral dan kebangkitan China—membuat negara-negara semakin memprioritaskan keamanan energi serta upaya mengunci pasokan bahan-bahan penting bagi pengembangan kecerdasan buatan dan transisi hijau.

Ahli strategi multi-aset Societe Generale, Manish Kabra, menyoroti adanya kesenjangan besar antara kenaikan harga komoditas dan kinerja mata uang komoditas yang dinilai relatif tertinggal dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan masih ada ruang bagi penguatan lebih lanjut. Sejak konflik meletus, Kabra mengurangi kepemilikan euro dan melakukan diversifikasi ke empat mata uang komoditas. Ia berpendapat fokus strategis dan geopolitik pada komoditas belum sepenuhnya tercermin dalam harga mata uang tersebut.

Dari sisi strategi portofolio, manajer portofolio senior Allspring Global Investments, Lauren van Biljon, mengatakan telah mengalihkan kepemilikan ke krone Norwegia terhadap poundsterling Inggris, dengan asumsi krone akan menguat. Ia menilai posisi Norwegia sebagai produsen minyak dan gas besar membuatnya berperan penting dalam keamanan energi Eropa, terutama saat kawasan itu mengurangi ketergantungan pada pasokan Rusia setelah konflik di Ukraina. Van Biljon juga menyebut harapan bahwa bank sentral Norwegia akan mempertahankan kebijakan moneter ketat di tengah kenaikan biaya energi sebagai faktor pendukung.

Rabobank memperkirakan euro akan melemah terhadap krone dan merekomendasikan strategi menjual poundsterling serta membeli krone Norwegia. Pada kisaran 9,37 krone per 1 dolar AS, mata uang Norwegia diperdagangkan mendekati level terkuatnya sejak 2022.

Australia, Kanada, dan Norwegia disebut memiliki peringkat kredit AAA dan merupakan pengekspor energi bersih. Sejumlah analis menilai kombinasi faktor tersebut memberi investor alternatif di luar euro dan yuan, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai peran global dolar AS.

Lonjakan harga komoditas menjadi latar penting pergeseran ini, meski risiko tetap membayangi. Perusahaan investasi Ninety One menilai sebuah “tatanan komoditas baru” tengah terbentuk, ditandai oleh fragmentasi geopolitik, elektrifikasi, kendala pasokan, regionalisasi pasar energi dan material, serta restrukturisasi rantai pasok global. Menurut data Bank of America, aset komoditas menjadi kelas aset berkinerja terbaik sejak awal 2026, naik sekitar 42% setelah hanya naik 6% pada tahun sebelumnya.

Harga minyak berfluktuasi tajam akibat konflik dan diperdagangkan mendekati 100 dolar AS per barel. Tembaga mencapai level tertinggi dalam enam minggu, sementara emas—meski turun belakangan—masih sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan setahun lalu. Kabra menilai keputusan pemerintah AS memasukkan tembaga ke dalam daftar mineral penting untuk perekonomian dan keamanan nasional pada November lalu memperlihatkan meningkatnya bobot komoditas dalam pertimbangan geopolitik.

Namun, mata uang komoditas tetap rentan terhadap kekhawatiran bahwa konflik dapat menekan pertumbuhan ekonomi global, sebagaimana mata uang lainnya. Daya tariknya juga sedikit berkurang ketika dolar AS menguat sebagai aset safe-haven. Meski demikian, setelah sempat melemah terhadap dolar pada tahap awal konflik, dolar Kanada, dolar Selandia Baru, dan dolar Australia pulih seiring munculnya harapan gencatan senjata.

Australia, meski menjadi pengekspor utama batu bara dan gas alam cair, dinilai memiliki kerentanan karena ketergantungan pada impor produk minyak olahan. Manajer portofolio RBC BlueBay Asset Management, Malin Rosengren, menyebut faktor paling penting saat ini adalah kemandirian dan keamanan energi, seraya menekankan bahwa Australia memiliki titik lemah di area tersebut. Ia juga menilai dampak terhadap pertumbuhan jangka menengah akan menjadi variabel kunci dalam menilai seberapa besar komoditas memengaruhi nilai tukar.

Sejumlah pelaku pasar melihat mata uang komoditas tetap menarik dalam berbagai skenario. Sekalipun konflik mereda, biaya energi diperkirakan tetap tinggi untuk beberapa waktu karena aliran energi tidak bisa pulih seketika dan infrastruktur perlu dipulihkan.

Direktur Strategi Solusi Global Russell Investments, Van Luu, menilai kondisi ini membuka peluang investasi pada mata uang komoditas. Ia mengatakan jika harga minyak bertahan di kisaran 85–100 dolar AS per barel, bukan 65 dolar AS, maka negara pengekspor energi di ekonomi yang stabil secara politik seperti Norwegia dan Kanada berpotensi diuntungkan. Ia menambahkan tetap berkomitmen berinvestasi pada mata uang tersebut.

Sementara itu, Kepala Valuta Asing Global Amundi, Andreas Koenig, menilai mata uang komoditas tetap menjadi pilihan yang layak terlepas dari hasil upaya penyelesaian konflik. Menurutnya, mata uang ini tidak hanya menarik di tengah volatilitas global, tetapi juga berpeluang menguat setelah pasar kembali stabil. Ia menekankan mata uang komoditas cenderung sensitif terhadap risiko dan menguat ketika pasar kembali menerima risiko.