BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Mengguncang Pasar Energi dan Inflasi Global, dari AS hingga Eropa dan Asia

Konflik Timur Tengah Mengguncang Pasar Energi dan Inflasi Global, dari AS hingga Eropa dan Asia

Perkembangan ekonomi global pada awal April 2026 banyak dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu lonjakan harga energi, mengganggu arus perdagangan, serta menambah tekanan inflasi di sejumlah negara. Dampaknya menjalar dari pasar minyak dan inflasi Amerika Serikat, biaya produksi pertanian Eropa, hingga kehati-hatian kebijakan moneter Jepang.

Di Amerika Serikat, para ekonom memperkirakan data Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret 2026 yang akan dirilis pekan ini mencerminkan kenaikan tajam akibat lonjakan harga bensin. CPI diperkirakan naik sekitar 1% secara bulanan, yang berpotensi menjadi kenaikan bulanan paling tinggi sejak 2022. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan konflik di Iran yang mendorong harga bensin ritel di SPBU naik sekitar US$1 per galon.

Gangguan terbesar terlihat pada jalur energi global. Tersendatnya pengiriman di Selat Hormuz—yang disebut sebagai jalur pengiriman energi terpenting di dunia—menyebabkan penurunan tajam aliran minyak global, sementara rute alternatif dinilai belum mampu menutup kekurangan. Data terbaru menunjukkan ekspor minyak mentah melalui laut dari negara-negara Teluk (tidak termasuk Iran) pada Maret 2026 hanya mencapai 8,44 juta barel per hari, turun 49% dari 16,58 juta barel per hari pada bulan sebelumnya.

Tekanan juga terasa pada aktivitas bisnis non-minyak di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran mengganggu perdagangan dan meningkatkan biaya, sehingga ekonomi non-minyak kawasan ini dilaporkan stagnan pada Maret 2026. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Uni Emirat Arab turun menjadi 52,9 poin, level terendah sejak Juli 2025. Di Kuwait, PMI merosot dari 54,5 menjadi 46,3 poin, menandai kontraksi pertama dalam lebih dari setahun. Sementara itu, PMI Mesir turun menjadi 48 poin, level terendah dalam hampir dua tahun.

Di Eropa, lonjakan harga pupuk menambah beban biaya bagi petani, seiring naiknya harga gas yang dipengaruhi perkembangan konflik. Dewan Produsen Wallonia di Belgia mencatat harga pupuk naik dari 350 euro per ton menjadi 500 euro per ton, sementara urea mendekati 700 euro per ton. Laporan Argus Fertilizers menyebut harga larutan nitrogen UAN di Prancis naik 24%, dan ekspor urea dari Mesir meningkat 63%. Meski sebagian petani masih memiliki stok, banyak yang harus membeli dengan harga lebih tinggi, yang berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi.

Di Asia, Bank Sentral Jepang (BoJ) memberi sinyal kehati-hatian terkait peluang kenaikan suku bunga pada April 2026, di tengah risiko inflasi yang meningkat akibat konflik Timur Tengah. Data pasar menunjukkan pelaku pasar memperkirakan probabilitas 66% BoJ akan menaikkan suku bunga bulan ini. Namun, kehati-hatian muncul karena inflasi inti Februari 2026 turun menjadi 1,6%—terendah dalam hampir empat tahun—yang didukung subsidi energi pemerintah. Meski Dana Moneter Internasional (IMF) mendorong BoJ melanjutkan kenaikan suku bunga, BoJ menekankan pemantauan pertumbuhan upah dan fluktuasi pasar untuk memastikan target inflasi 2% berkelanjutan sebelum mengubah kebijakan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) turut mengingatkan risiko lanjutan terhadap ketahanan pangan global. Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, menyatakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat meningkatkan kerentanan terutama bagi negara yang sangat bergantung pada impor makanan, pupuk, dan bahan bakar. Menurutnya, ketegangan tersebut menyoroti rapuhnya negara dengan produksi domestik terbatas dan ketergantungan tinggi pada pasokan eksternal.

Di sisi perdagangan, sejumlah indikator menunjukkan dinamika yang beragam. Sumber industri melaporkan ekspor makanan Korea Selatan (K-food) ke Timur Tengah pada kuartal pertama 2026 meningkat lebih dari 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski ketidakpastian geopolitik terkait konflik antara AS, Israel, dan Iran masih berlangsung. Secara keseluruhan, Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan (MAFRA) mencatat total ekspor makanan Januari–Maret 2026 mencapai US$2,56 miliar, naik 4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) menilai kawasan berada pada posisi relatif lebih baik menghadapi guncangan energi. Dalam laporan AREO 2026 yang dirilis 6 April, AMRO memperkirakan pertumbuhan regional 4% pada 2026 dan 2027. Kepala ekonom AMRO, Dong He, menyebut meski risiko meningkat akibat konflik di Timur Tengah, ASEAN+3 dinilai lebih siap karena efisiensi penggunaan energi, ketergantungan minyak yang lebih rendah, inflasi yang relatif rendah, serta ruang kebijakan yang masih tersedia.

Di tengah ketidakpastian global, Hong Kong mencatat performa kuat di pasar penawaran umum perdana (IPO). Pada 5 April, Sekretaris Urusan Keuangan Hong Kong (China), Chan Mo-po, menyatakan pasar IPO Hong Kong telah menghimpun lebih dari HK$103 miliar pada kuartal pertama 2026, dan menempati peringkat pertama di dunia.

Sementara itu, China mengumumkan langkah kebijakan untuk memperkuat peran ekonomi digital. Kementerian Perdagangan China bersama lima lembaga terkait menerbitkan dokumen “Pedoman untuk Melayani Ekonomi Riil dengan Lebih Baik dan Mendorong Pengembangan E-commerce Berkualitas Tinggi”. Pedoman tersebut memuat arahan dan langkah untuk meningkatkan kontribusi e-commerce terhadap ekonomi digital dan pertumbuhan berkelanjutan, dengan penekanan bahwa e-commerce merupakan sektor yang berkembang cepat, inovatif, dan menjadi pendorong baru kekuatan produksi modern.

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat cepat merambat ke indikator ekonomi utama—mulai dari harga energi dan inflasi hingga biaya pangan dan keputusan suku bunga—serta menguji ketahanan rantai pasok dan kebijakan di berbagai kawasan.