BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Menguji Ketahanan Ekonomi Global, Pasar Energi Jadi Titik Kritis

Konflik Timur Tengah Menguji Ketahanan Ekonomi Global, Pasar Energi Jadi Titik Kritis

Konflik di Timur Tengah kembali mengguncang perekonomian dunia, terutama melalui jalur yang paling sensitif bagi aktivitas global: pasar energi. Perhatian utama kini tidak hanya tertuju pada berapa lama konflik akan berlangsung, tetapi pada seberapa jauh konsekuensi ekonominya dapat menyebar dari pusat ketegangan di kawasan tersebut.

Di antara berbagai kanal dampak, minyak dinilai sebagai “saluran transmisi” paling penting. Sejumlah ahli menilai arah pasar minyak akan menentukan apakah pertumbuhan ekonomi global yang selama ini relatif stabil dapat bertahan. Risiko terbesar yang disorot adalah potensi gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran di sepanjang pantai selatan Iran yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Jika pengiriman melalui selat itu terganggu secara parah dan berkepanjangan, harga minyak berpotensi melonjak tajam. Dalam skenario terburuk, analis memperkirakan harga minyak mentah Brent bisa menembus US$100 per barel. Lonjakan harga energi seperti itu berisiko memicu kembalinya inflasi di negara-negara ekonomi utama, yang pada gilirannya dapat memaksa bank sentral menunda pemotongan suku bunga. Kepercayaan dunia usaha juga dapat terguncang.

Namun, sebagian ahli menilai skenario yang lebih ringan lebih mungkin terjadi: Selat Hormuz tidak diblokir sepenuhnya, tetapi ekspor minyak Iran dibatasi. Dalam kondisi ini, harga minyak diperkirakan bisa naik hingga sekitar US$80 per barel. Capital Economics menilai kenaikan sekitar US$10 per barel tidak akan menimbulkan guncangan besar terhadap pertumbuhan dan inflasi global.

Di tengah kekhawatiran pasar, OPEC dan sekutunya dalam OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026. Meski kenaikan ini lebih rendah dari perkiraan sebagian analis, langkah tersebut dipandang sebagai sinyal upaya untuk menahan laju kenaikan harga minyak.

Amerika Serikat, meski kini hampir mandiri energi, tetap tidak sepenuhnya kebal. Pada 2024, hanya 17% kebutuhan energinya berasal dari impor—level terendah dalam 40 tahun terakhir. Namun, kenaikan harga minyak global tetap akan mendorong naik harga bensin domestik dan menekan daya beli konsumen.

ING memperkirakan bila harga minyak mencapai US$100 per barel, inflasi AS dapat naik dari 2,4% menjadi lebih dari 4%. Kondisi itu berpotensi menyulitkan Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Barclays menambahkan, setiap kenaikan harga minyak US$10 per barel dapat memangkas pertumbuhan ekonomi AS dan global dalam 12 bulan berikutnya sekitar 0,1–0,2 poin persentase. Jika harga minyak naik hingga US$120 per barel dan bertahan, dampaknya dinilai akan signifikan.

Guncangan geopolitik di Timur Tengah juga berpotensi memperkuat dolar AS. Barclays mencatat, secara historis situasi seperti ini kerap mendukung penguatan dolar. Bank tersebut memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat mendorong penguatan dolar sekitar 0,5–1% terhadap sekeranjang mata uang global.

Tekanan besar juga membayangi Asia dan Eropa. Asia diperkirakan menjadi wilayah yang paling terdampak bila pasokan melalui Selat Hormuz terganggu. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), pada 2024 sekitar 84% minyak mentah dan 83% gas alam cair (LNG) yang melewati selat tersebut dikirim ke pasar Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Capital Economics memperkirakan, jika Brent naik ke US$100 per barel, inflasi global dapat bertambah 0,6–0,7 poin persentase. Di Eropa, kenaikan harga minyak dan LNG berisiko menambah tekanan inflasi. Namun, dengan inflasi Zona Euro berada di 1,7%—di bawah target 2%—Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan tidak harus segera mengubah arah kebijakan.

Situasi berbeda bisa dihadapi Inggris. Bank of England (BoE) dinilai berada dalam posisi lebih sulit karena adanya perbedaan pandangan internal terkait peluang penurunan suku bunga. Guncangan harga minyak dapat membuat keputusan kebijakan menjadi lebih sensitif.

Di Jepang, dampak kenaikan harga minyak dinilai bisa lebih terasa karena ketergantungan tinggi pada impor energi. Jesper Koll dari Monex Group memperkirakan bila minyak diperdagangkan di kisaran US$100–US$120 per barel dalam beberapa bulan mendatang, kondisi itu dapat menjadi “guncangan pasokan” yang mendorong inflasi konsumen Jepang naik hampir 0,5 poin persentase.

Guncangan pasokan berbeda dari inflasi akibat lonjakan permintaan, karena kenaikan biaya input terjadi bersamaan dengan tergerusnya pendapatan riil masyarakat. Kondisi ini berpotensi mengganggu agenda Perdana Menteri Sanae Takaichi yang berjanji mendinginkan inflasi energi dan pangan. Kenaikan harga bahan bakar juga dapat memperlebar defisit perdagangan serta memicu inflasi impor, di tengah pelemahan yen. Dalam tiga bulan terakhir, yen tercatat sebagai mata uang yang paling banyak melemah di antara 10 mata uang utama yang diperdagangkan di kelompok G10.

Tekanan tersebut juga dapat mempersulit kebijakan Bank Sentral Jepang (BoJ). Pasar saat ini memperkirakan peluang 60% BoJ akan menaikkan suku bunga pada April 2026. Namun, menurut Koll, bila inflasi naik karena harga minyak, kenaikan suku bunga belum tentu menjadi solusi yang tepat. Pemerintah dapat terdorong mempertimbangkan dukungan fiskal untuk rumah tangga, yang berpotensi memicu ketidakstabilan pasar lebih lanjut.

Di sisi lain, risiko konflik berkepanjangan muncul ketika pasar keuangan global sudah berada dalam fase bergejolak. Di AS, saham-saham bank mengalami penurunan tajam sejak guncangan tarif pada April 2025. Sementara itu, indeks Nasdaq turun lebih dari 3% pada Februari 2026 akibat tekanan pada saham teknologi dan kekhawatiran terkait kecerdasan buatan.

Jika konflik di Teluk berlangsung lama, mengguncang pasar energi, dan memaksa The Fed menunda pelonggaran moneter, hal itu dapat menciptakan guncangan baru terhadap kepercayaan. Ketika pelaku usaha dan investor semakin berhati-hati, investasi dan belanja cenderung melambat, sehingga pertumbuhan melemah.

Meski demikian, terdapat pandangan bahwa ekonomi global telah menunjukkan ketahanan terhadap berbagai guncangan dalam setahun terakhir. Persoalan kuncinya bukan hanya kenaikan harga minyak, melainkan apakah harga tinggi tersebut bertahan cukup lama hingga mengubah ekspektasi kebijakan moneter dan perilaku investasi.

Pada akhirnya, dampak konflik terhadap ekonomi global dinilai tidak semata soal minyak. Yang lebih menentukan adalah apakah guncangan energi ini membalikkan ekspektasi pasar terhadap siklus pelonggaran moneter yang selama ini diantisipasi. Jika inflasi kembali meningkat dan bank sentral terpaksa menunda atau menghentikan pemotongan suku bunga, dunia bisa menghadapi periode pengetatan yang lebih panjang dari perkiraan—dengan risiko lanjutan berupa melemahnya kepercayaan investasi dan prospek pertumbuhan.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar cerita tentang harga minyak, melainkan ujian ketahanan ekonomi global menghadapi terlalu banyak guncangan pada saat yang bersamaan, ketika siklus kebijakan moneter berada di titik yang krusial.