Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sorotan utama pasar global pada 2 Maret 2026. Dampaknya terlihat pada gangguan besar perjalanan udara, pergerakan harga komoditas, hingga penguatan dolar AS di tengah kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak.
Gangguan perjalanan udara dilaporkan meluas dari Timur Tengah ke berbagai wilayah lain, seiring penutupan wilayah udara dalam skala besar. Sejumlah maskapai di kawasan Teluk memperpanjang penangguhan penerbangan secara massal, yang memicu kekacauan di beberapa bandara tersibuk di dunia. Situasi ini turut menekan saham-saham penerbangan yang mengalami penurunan tajam dalam perdagangan 2 Maret, sementara puluhan ribu orang dilaporkan terlantar akibat gangguan tersebut. Penutupan wilayah udara berskala luas ini disebut belum pernah terjadi sebelumnya dan dinilai berpotensi mengancam stabilitas kawasan yang kaya energi.
Di pasar logam mulia, harga emas menguat dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat minggu. Kenaikan terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran, yang meningkatkan ketegangan geopolitik dan mendorong permintaan aset lindung nilai. Pada sesi siang hari 2 Maret, harga emas spot naik 1,88% menjadi US$5.376,44 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS tercatat naik 2,7% menjadi US$5.389,20 per ons.
Penguatan juga terjadi pada dolar AS. Mata uang tersebut naik terhadap sejumlah mata uang utama, dengan Indeks Dolar Bloomberg sempat menguat hingga 0,7% dan mencapai level tertinggi sejak awal Februari 2026. Pergerakan ini dikaitkan dengan lonjakan harga minyak mentah menyusul serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan, yang memunculkan kekhawatiran baru terkait tekanan inflasi.
Perkembangan pada 2 Maret menunjukkan bagaimana eskalasi konflik geopolitik dapat cepat merambat ke sektor transportasi, pasar komoditas, dan nilai tukar, sekaligus meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

