Pertemuan yang melibatkan para jenderal dan Kapolri dibaca sebagai bagian dari upaya konsolidasi untuk memastikan stabilitas tetap terjaga. Dalam kerangka itu, pengumpulan figur-figur kunci dinilai dapat menutup ruang munculnya “arus bawah” yang bergerak di luar kendali, termasuk potensi loyalitas ganda di tengah dinamika politik yang kerap berubah.
Namun, membaca pertemuan tersebut semata sebagai urusan internal dianggap terlalu sempit. Situasi global dinilai sedang bergerak menuju ketidakstabilan, ditandai eskalasi konflik, meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, serta menguatnya ancaman non-konvensional seperti perang siber dan disinformasi. Kondisi ini mendorong negara untuk melakukan penyesuaian cepat, termasuk menyamakan persepsi terhadap spektrum ancaman yang dihadapi.
Dalam konteks itu, keterlibatan Kapolri menjadi penanda penting bahwa pembahasan tidak hanya menyasar dimensi eksternal. Stabilitas dalam negeri—terutama pascakontestasi politik, potensi polarisasi, hingga ancaman radikalisme—dipandang tetap menjadi variabel krusial. Konsolidasi ini sekaligus menunjukkan keterkaitan antara keamanan eksternal dan internal yang semakin sulit dipisahkan pada era modern.
Meski demikian, langkah tersebut tidak lepas dari potensi kritik. Menguatnya peran purnawirawan dalam orbit kekuasaan kerap memunculkan pertanyaan mengenai batas antara pengaruh informal dan struktur formal negara. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah konsolidasi ini memperkuat negara atau justru membuka “ruang bayangan” dalam proses pengambilan keputusan.
Penilaian terhadap langkah tersebut pada akhirnya bergantung pada sejauh mana konsolidasi diikuti kebijakan yang transparan dan akuntabel, atau berhenti sebagai simbol kekuatan semata. Yang jelas, momentum pertemuan ini tidak dapat dilepaskan dari fase awal pemerintahan, ketika fondasi stabilitas—terutama di sektor keamanan—menjadi kebutuhan utama bagi setiap rezim baru.