BERITA TERKINI
Krisis Global Tekan Industri Printing Indonesia, Harga Bahan Baku Naik hingga 20 Persen

Krisis Global Tekan Industri Printing Indonesia, Harga Bahan Baku Naik hingga 20 Persen

Tekanan krisis global yang dipicu konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok mulai berdampak pada industri printing di Indonesia. Salah satu imbas yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku, terutama material berbasis plastik seperti stiker, yang meningkat sekitar 15 hingga 20 persen.

Kepala Putra Mutiara Jaya Cabang Solo, H. Sutiyo, mengatakan lonjakan harga tersebut memengaruhi perhitungan biaya produksi hingga penetapan harga jual ke konsumen. Kondisi ini membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan impor bahan baku.

“Dengan kenaikan harga, tentu perhitungan rugi laba berubah. Kami juga harus menyesuaikan harga ke customer sebaik mungkin agar tetap kompetitif,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Selain penyesuaian harga, ketidakpastian pasar juga mendorong perusahaan lebih cermat mengelola persediaan. Sutiyo menilai keseimbangan stok menjadi perhatian karena risiko overproduksi di tengah daya beli yang belum stabil dapat memicu kerugian lebih besar.

Meski demikian, kondisi industri printing di berbagai daerah tidak seragam. Di Jawa Tengah, permintaan untuk produk stiker kendaraan disebut mengalami peningkatan signifikan. Sementara di Bandung, aktivitas industri printing dinilai relatif merata baik pada sektor grafika maupun sublimasi.

Di sisi lain, fluktuasi masih terjadi di sejumlah wilayah seperti Jakarta dan Surabaya, terutama pada segmen sublimasi yang sempat mengalami penurunan. Faktor musiman juga disebut masih memengaruhi pasar, di mana periode pasca-Lebaran umumnya diikuti perlambatan sebelum kembali meningkat.

“Kami tetap optimistis. Saat ini pasar mulai menunjukkan peningkatan dan diharapkan terus tumbuh hingga akhir tahun,” kata Sutiyo.

Di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian pasar, inovasi teknologi dinilai menjadi salah satu kunci menjaga daya saing. PT Putra Mutiara Jaya yang beroperasi sejak 2013 meluncurkan merek baru, Sky Digital, yang ditujukan untuk menghadirkan solusi terintegrasi bagi pelaku usaha printing di Indonesia.

Melalui Sky Digital, perusahaan memperkenalkan lini mesin digital printing berteknologi terkini, mulai dari mesin sublimasi, DTF, UV, hingga mesin printing industri tekstil. Salah satu inovasi yang disebut akan segera hadir adalah teknologi digital hybrid yang memungkinkan proses cetak roll dan flat dalam satu mesin.

Teknologi tersebut dinilai dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada metode konvensional seperti cutting, sehingga proses cetak menjadi lebih praktis dan fleksibel.

Selain menyediakan mesin, Sky Digital juga menawarkan bahan baku, suku cadang, serta layanan purna jual dengan dukungan tenaga profesional. Jaringan layanan perusahaan juga diperluas melalui kehadiran cabang di sejumlah kota, antara lain Bandung, Solo, Surabaya, Bali, dan Pekanbaru.

Peluncuran nasional Sky Digital digelar pada 21–23 April 2026 dan dihadiri sekitar 150 undangan. Kegiatan yang diselenggarakan meliputi demonstrasi mesin, talkshow, hingga konsultasi bisnis dan perpajakan.

Sutiyo berharap situasi global segera membaik agar stabilitas harga bahan baku kembali terjaga. Menurutnya, adaptasi terhadap perubahan, efisiensi operasional, dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri printing di masa mendatang.

“Kami berharap situasi global segera membaik sehingga stabilitas harga bahan baku dapat kembali terjaga dan industri printing nasional bisa melaju lebih kencang menuju pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya.