Kualitas udara di India pada 19 Maret 2026 dilaporkan masih berada pada level buruk. Sejumlah kota besar mengalami kategori “tidak sehat” dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Pada pukul 15.30 Waktu Standar India (IST), beberapa pusat kota mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) di atas 150 dan memicu peringatan kesehatan. Warga disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela, memakai masker saat berada di luar, serta menggunakan alat pembersih udara di dalam ruangan.
Meski kondisi harian dapat berubah, data rata-rata menunjukkan masalah polusi udara yang masih signifikan. Pada 2024, konsentrasi PM2.5 rata-rata di India tercatat 50,6 µg/m³, setara dengan AQI 138 dan diklasifikasikan sebagai “tidak sehat untuk kelompok sensitif”. Angka ini hampir 11 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 5 µg/m³, dan menempatkan India di peringkat kelima secara global dalam Laporan Kualitas Udara Dunia 2024.
Pada 19 Maret 2026, sejumlah kota yang dilaporkan terdampak kualitas udara buruk meliputi Ahmedabad, Asansol, Delhi, Jaipur, Kolkata, Muzaffarpur, Nagpur, dan Patna. Kondisi polusi dapat berubah cepat sepanjang hari. Pada waktu pengamatan yang sama (15.30 IST), Delhi dan Kolkata disebut tidak termasuk dalam kategori kota paling berpolusi di dunia.
Perbaikan kualitas udara dalam jangka pendek sangat bergantung pada cuaca. Angin, hujan, dan meningkatnya pencampuran atmosfer dapat membantu menyebarkan polutan. Memasuki musim semi (Maret–Mei), kenaikan suhu dapat mendorong pergerakan udara yang membantu mengurangi polusi. Namun, awal musim semi masih berpotensi menghadirkan udara stagnan, angin sepoi-sepoi, dan suhu tinggi yang memerangkap polutan seperti PM2.5.
Kelegaan yang lebih besar umumnya terjadi saat musim hujan (Juni–September), ketika hujan membantu membersihkan polutan dan menurunkan kadar PM2.5 secara drastis. Contohnya di Kolkata, rata-rata PM2.5 pada musim hujan dilaporkan turun menjadi sekitar 20–21 µg/m³ dibandingkan musim dingin yang mencapai 77–80 µg/m³. Meski demikian, perbaikan berkelanjutan dinilai memerlukan langkah kebijakan dan pengendalian musiman; tanpa itu, episode polusi parah berisiko berulang.
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab utama polusi udara di India, termasuk emisi rumah tangga, sektor listrik, kegiatan industri, transportasi, pembakaran tanaman dan limbah secara terbuka, serta debu. Emisi rumah tangga diperkirakan menyumbang sekitar 30–50% dari tingkat PM2.5 ambien sepanjang tahun.
Pada periode musim semi, polusi dapat bertahan akibat debu jalan yang tersuspensi dari konstruksi dan urbanisasi, badai debu serta resuspensi debu di wilayah kering dan semi-kering yang memicu lonjakan PM10, suhu tinggi dengan angin lemah yang membuat udara menggenang, serta meningkatnya serbuk sari dan alergen. Selain itu, efek sisa pembakaran tunggul pada musim dingin dan polusi lintas batas dari wilayah tetangga juga disebut turut berkontribusi.
Untuk mengurangi paparan saat kualitas udara memburuk, warga dianjurkan membatasi aktivitas luar ruangan, menutup jendela, memakai masker ketika berada di luar, dan menggunakan alat pembersih udara di dalam ruangan.

