Ketidakpastian geopolitik yang berlarut-larut memunculkan kekhawatiran sebagian pihak terhadap kemungkinan konflik berskala besar, termasuk skenario ekstrem seperti perang dunia atau perang nuklir. Dalam situasi yang serba tidak pasti, pengetahuan dasar mengenai keselamatan dan manajemen krisis dinilai relevan sebagai bekal menghadapi berbagai kemungkinan.
Konflik global berskala besar berpotensi memicu guncangan ekonomi luas, mulai dari kenaikan harga hingga ketidakpastian lapangan kerja. Karena itu, kesiapan finansial dan strategi bertahan hidup menjadi hal yang kerap dipertimbangkan. Berikut sejumlah langkah yang disebut dapat dilakukan untuk mengantisipasi krisis ekonomi dalam situasi tersebut.
1. Mengatur dan memperkuat kondisi keuangan
Langkah awal yang disorot adalah memprioritaskan kewajiban finansial, seperti cicilan atau utang. Selain itu, disarankan menyiapkan dana pegangan, baik dalam bentuk uang tunai, tabungan, maupun sumber dana darurat lain seperti pencairan dana dari kartu kredit atau saham. Jika belum memiliki dana darurat, opsi pekerjaan tambahan (side job) disebut dapat membantu mempercepat pembentukannya.
2. Mempersiapkan beragam kebutuhan pokok
Kebutuhan sehari-hari yang berpotensi sulit diperoleh saat krisis, seperti makanan pokok dan air, menjadi perhatian. Upaya menanam bahan pangan secara mandiri juga disebut sebagai alternatif, misalnya melalui urban farming, hidroponik, atau tabulampot (tanaman buah dalam pot), sebagai antisipasi ketika terjadi kekurangan bahan pangan.
3. Mengawetkan bahan makanan
Krisis ekonomi dapat diikuti kenaikan harga di pasaran. Untuk meredam pengeluaran saat harga naik, salah satu langkah yang diusulkan adalah mengawetkan bahan makanan. Metode yang disebut antara lain membuat acar, mengeringkan makanan, membekukan makanan, membuat selai, serta pengasinan untuk ikan atau telur.
4. Mengamankan tempat tinggal
Aspek keamanan rumah juga menjadi bagian dari persiapan. Disebutkan pentingnya menyiapkan cadangan listrik untuk mengantisipasi pemadaman, serta memasang alarm dan kamera pengawas guna mengurangi risiko kriminalitas. Selain itu, keluarga juga dapat dibekali kemampuan bela diri dan memanfaatkan alat sederhana sebagai bentuk perlindungan diri.
5. Mengantisipasi krisis finansial
Pemahaman mengenai kondisi pasar modal serta komoditas atau produk yang diperdagangkan turut disarankan. Masyarakat juga didorong untuk mengikuti indikator ekonomi negara, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan aspek lain yang berkaitan dengan potensi krisis finansial.
Negara yang dinilai relatif lebih aman jika perang dunia terjadi
Di tengah kekhawatiran terhadap ketidakpastian global, sejumlah negara disebut memiliki tingkat keamanan dan stabilitas yang relatif tinggi jika perang dunia terjadi. Faktor yang disebut mendukung antara lain letak geografis, kebijakan netralitas, dan kemampuan pertahanan.
Beberapa negara yang dinilai relatif lebih aman adalah:
1. Selandia Baru
Disebut berada jauh dari jalur konflik utama di Pasifik Selatan dan dinilai lebih aman terhadap dampak perang nuklir, dengan keterlibatan militer yang rendah.
2. Australia
Dinilai relatif terisolasi dari wilayah konflik dan memiliki sumber daya alam yang mumpuni.
3. Bhutan
Berada di pegunungan Himalaya, disebut netral dan minim konflik militer.
4. Chile
Dinilai memiliki keuntungan geografis berupa Pegunungan Andes dan Samudera Pasifik yang disebut dapat mendukung daya tahan menghadapi konflik.
5. Indonesia
Indonesia disebut termasuk negara yang aman karena kebijakan luar negeri bebas aktif dan posisi yang dinilai netral jika terjadi konflik global berskala besar.
Terlepas dari berbagai skenario, tidak ada pihak yang benar-benar menginginkan perang terjadi. Namun, persiapan disebut dapat membantu masyarakat tetap tenang dan lebih siap menghadapi berbagai situasi.

