BERITA TERKINI
Mahasiswa ITB Kembangkan Bio-Briket dari Daun Kering dan Serabut Kelapa

Mahasiswa ITB Kembangkan Bio-Briket dari Daun Kering dan Serabut Kelapa

Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan bio-briket berbahan limbah organik sebagai alternatif energi. Inovasi ini memadukan daun kering dan serabut kelapa, dua material dengan karakter berbeda yang dinilai saling melengkapi dalam menghasilkan briket yang lebih efisien.

Menurut Arsyad, formulasi menjadi kunci utama produk tersebut. Daun kering dipilih karena mudah menyala, sementara serabut kelapa digunakan karena memiliki kadar lignin tinggi yang membantu membentuk struktur arang lebih kuat. Sebagai perekat, tim menggunakan pati tapioka alami sehingga briket yang dihasilkan diklaim 100% ramah lingkungan. Daun kering dikumpulkan dari area Kampus ITB Jatinangor, sedangkan serabut kelapa berasal dari limbah rumah tangga.

Proses pembuatan bio-briket dilakukan melalui tahapan yang relatif sederhana. Limbah organik terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dikarbonisasi dalam kaleng tertutup hingga menjadi arang. Setelah itu, arang dihaluskan, dicampur dengan perekat tapioka, dicetak secara manual, lalu dijemur kembali selama 2–3 hari di bawah sinar matahari.

Tim menyebut bio-briket ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mudah menyala berkat kandungan volatil dari daun kering, serta durasi bakar lebih lama karena diperkuat struktur arang dari serabut kelapa. Selain itu, asap dan bau yang dihasilkan diklaim lebih rendah dibandingkan pembakaran limbah secara langsung. Seluruh bahan yang digunakan berasal dari sumber terbarukan, sementara abunya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Inovasi tersebut ditampilkan dalam pameran bertajuk “ALICE: Abyanara's Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment”, yang merupakan aksi angkatan mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi 2024. Pameran ini menjadi wadah untuk menunjukkan penerapan ilmu dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai.

Dari sisi ekonomi, tim menilai bio-briket berpeluang menjadi solusi energi bagi rumah tangga maupun industri kecil. Jika diproduksi massal, estimasi biaya produksi disebut berada di kisaran Rp500–1.000 per briket, dengan harga jual sekitar Rp1.500–2.000. Tim menyatakan skema ini masih memungkinkan keuntungan sekaligus membantu pengelolaan limbah.

Meski demikian, pengembangan produk masih menghadapi tantangan, terutama dalam standarisasi komposisi bahan baku dan proses pengeringan yang pada tahap awal belum konsisten. Ke depan, tim berencana melakukan pengujian nilai kalor dan emisi secara kuantitatif di laboratorium, menetapkan harga jual standar, serta menjajaki kerja sama dengan bank sampah dan UMKM lokal untuk membangun model ekonomi sirkular.