Mantan Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2017, Mahfuz Sidik, mengingatkan bahaya besar jika konflik bersenjata antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran terus berlanjut tanpa kendali. Menurutnya, eskalasi yang terjadi saat ini pada dasarnya sudah mencerminkan perang terbuka, terlepas dari istilah yang digunakan masing-masing pihak.
“Apapun istilahnya, baik disebut serangan pre-emptive maupun retaliation, yang terjadi sesungguhnya adalah perang. Dan jika perang ini berlarut, dampaknya akan sangat serius, bukan hanya bagi kawasan, tetapi juga dunia,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia itu menilai situasi kian memanas setelah rangkaian serangan militer yang saling dibalas tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Ia juga menyoroti bahwa wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak menghentikan respons militer Teheran.
“Fakta bahwa wafatnya Ayatollah Ali Khamenei tidak menyurutkan langkah militer Iran menunjukkan bahwa ini bukan konflik personal, melainkan konflik strategis antarnegara dan aliansi. Bahkan sasaran pembalasan meluas ke basis-basis militer Amerika Serikat di kawasan Teluk,” kata Mahfuz.
Mahfuz meyakini Iran telah menyiapkan skenario pembalasan jangka panjang. Ia menilai dua gelombang serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat belum mampu melumpuhkan kemampuan militer Iran secara menyeluruh.
“Jika kalkulasi militer Iran masih solid, maka perang ini berpotensi menjadi prolonged war atau perang berlarut. Inilah yang harus diwaspadai,” tegasnya.
Dalam pemetaannya, Mahfuz menyebut sedikitnya lima dampak besar yang berpotensi muncul apabila konflik terus melebar.
1. Potensi kekacauan politik di negara-negara Teluk
Dampak pertama, menurut Mahfuz, adalah potensi kekacauan politik di Timur Tengah, terutama di negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait dinilai berada dalam posisi dilematis ketika menjadi sasaran atau lokasi serangan balasan Iran.
“Jika negara-negara Teluk ini membentuk front bersama Israel dan Amerika Serikat untuk menghadapi Iran, mereka berisiko menghadapi resistensi domestik. Opini publik di kawasan tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan elitnya,” jelas Mahfuz.
Ia menilai ketegangan eksternal dapat dengan cepat berubah menjadi instabilitas internal. Demonstrasi, tekanan politik, hingga potensi konflik horizontal bisa meningkat apabila masyarakat merasa negaranya terseret terlalu jauh dalam perang yang bukan sepenuhnya kepentingan nasional mereka.
“Ketika tekanan eksternal dan tekanan domestik bertemu, maka kekacauan politik sangat mungkin terjadi,” ujarnya.
2. Hilangnya keseimbangan kekuatan militer kawasan
Dampak kedua adalah potensi hilangnya keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah. Mahfuz menilai jika Iran sebagai salah satu kekuatan utama berhasil dilemahkan atau dihancurkan, peta kekuatan kawasan akan berubah drastis.
“Jika kekuatan militer Iran dihancurkan, maka Israel akan menjadi kekuatan militer dominan tanpa penyeimbang di kawasan. Ini berbahaya bagi stabilitas jangka panjang,” katanya.
Mahfuz menyinggung serangan rudal Israel yang sebelumnya menyasar wilayah Qatar untuk menargetkan delegasi Hamas sebagai preseden yang ia nilai mengkhawatirkan. Menurutnya, tindakan semacam itu menunjukkan batas-batas kedaulatan negara bisa semakin diabaikan dalam logika perang.
“Ketika satu negara menjadi terlalu dominan secara militer, maka potensi penggunaan kekuatan secara sepihak akan meningkat,” tambahnya. Ia juga menilai kehadiran militer Amerika Serikat yang telah lama mengitari kawasan semakin memperkuat konfigurasi kekuatan yang timpang.
3. Risiko agresi militer lanjutan di kawasan
Dampak ketiga adalah kemungkinan meluasnya agresi militer Israel di kawasan. Mahfuz menilai selama agresi ke Gaza berlangsung, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyuarakan penolakan terhadap solusi dua negara.
“Ketika konsep two-state solution dikesampingkan dan ambisi Israel Raya disuarakan, maka kita harus membaca itu sebagai sinyal politik yang serius,” ujarnya.
Menurut Mahfuz, apabila Iran sebagai poros perlawanan terakhir melemah, maka tidak tertutup kemungkinan wilayah lain seperti Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, hingga Arab Saudi berpotensi terdampak dinamika agresi lanjutan.
“Jika tidak ada kekuatan penyeimbang, maka ruang ekspansi akan terbuka. Ini yang membuat perang ini tidak bisa dilihat secara sempit,” katanya.
4. Ancaman krisis ekonomi global akibat gangguan jalur energi
Dampak keempat yang dinilai krusial adalah ancaman krisis ekonomi global akibat terganggunya jalur energi dunia. Mahfuz menyoroti dua titik strategis, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandab.
Ia menjelaskan Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20–30 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Sementara Selat Bab el-Mandab di jalur Laut Merah mencakup sekitar 12 persen pasokan minyak serta 10–15 persen perdagangan maritim global.
“Jika dua choke point ini terganggu akibat perang berlarut, maka rantai pasok energi dunia akan terpukul keras. Harga minyak bisa melonjak tajam, inflasi global meningkat, dan krisis ekonomi sulit dihindari,” ujarnya.
Mahfuz menekankan bahwa dalam ekonomi global yang saling terhubung, gangguan di Timur Tengah akan berdampak langsung ke Asia, Eropa, hingga Amerika Latin. “Perang ini bisa menjadi pemicu resesi global baru,” katanya.
5. Kemungkinan munculnya perang asimetris baru
Dampak kelima adalah potensi munculnya perang asimetris baru. Mahfuz menyebut Iran memiliki jejaring proksi dan pengaruh ideologis di berbagai negara yang dapat diaktifkan sebagai instrumen perlawanan tidak langsung terhadap kepentingan Israel dan Amerika Serikat.
“Perang tidak selalu berbentuk konvensional. Jika Iran mengelola jaringan proksi dan simpatisannya sebagai instrumen perang asimetris, maka konflik bisa muncul di banyak titik secara sporadis,” ujarnya.
Menurutnya, pola perang semacam ini sulit diprediksi dan sulit dikendalikan. Serangan dapat berbentuk sabotase, serangan siber, hingga aksi milisi non-negara. “Perang asimetris justru seringkali lebih panjang dan melelahkan karena tidak ada garis depan yang jelas,” tambahnya.
Seruan de-eskalasi dan kewaspadaan
Mahfuz menegaskan komunitas internasional tidak boleh memandang konflik ini sebagai persoalan regional semata. Ia mendorong upaya diplomasi yang lebih serius untuk mencegah eskalasi lebih jauh.
“Jika perang ini dibiarkan berlarut, dampaknya sistemik dan multidimensi—politik, militer, ekonomi, hingga sosial. Dunia harus mendorong de-eskalasi sebelum semuanya terlambat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya bersikap waspada terhadap dampak lanjutan, terutama di sektor energi dan ekonomi. “Kita harus membaca situasi global dengan cermat. Ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional harus diperkuat sejak sekarang,” pungkas Mahfuz.
Dengan berbagai potensi dampak tersebut, Mahfuz menilai perang yang terus membesar di Timur Tengah bukan sekadar rivalitas antarnegara, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas global.

