Teheran—Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkhianati diplomasi dan rakyat AS menyusul serangan terhadap Iran di tengah proses negosiasi tidak langsung terkait program nuklir Teheran.
Dalam unggahan di platform X pada Rabu, Araghchi menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk agresi tanpa provokasi dan dinilainya merusak jalur perundingan. “Ketika negosiasi nuklir yang kompleks diperlakukan seperti transaksi properti, dan ketika kebohongan besar mengaburkan kenyataan, harapan yang tidak realistis tidak akan pernah terpenuhi. Hasilnya? Mengebom meja negosiasi karena dendam,” tulis Araghchi.
Ia menambahkan, “Trump mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya,” sebagaimana dikutip Press TV pada Kamis, 5 Maret 2026.
Iran dan AS disebut sedang menjalani negosiasi tidak langsung mengenai program nuklir Iran. Para negosiator Iran dan mediator Oman sebelumnya menyampaikan harapan bahwa kesepakatan dapat dicapai. Bahkan, pada Jumat, 27 Februari 2026—sehari sebelum serangan dan segera setelah putaran ketiga negosiasi di Jenewa, Swiss—para diplomat Oman menyatakan bahwa kesepakatan komprehensif baru dinilai lebih dekat dibanding sebelumnya.
Namun pada Sabtu, 28 Februari 2026, pasukan bersenjata Israel dan AS melancarkan serangkaian serangan terhadap target strategis di berbagai wilayah Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat senior. Disebutkan pula bahwa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut.
Di sisi lain, utusan khusus Trump untuk Asia Barat, Steve Witkoff—yang juga disebut memimpin tim negosiasi AS—sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah merusak proses perundingan. Klaim itu dibantah oleh seorang diplomat yang mengetahui jalannya negosiasi. Kepada MS NOW, diplomat tersebut mengatakan pernyataan Witkoff “sepenuhnya salah” dan menyebut Iran tetap terbuka pada kesepakatan yang adil namun komprehensif dengan AS.
“Saya dapat menyatakan secara kategoris bahwa ini tidak akurat,” kata diplomat tersebut, merujuk pada pernyataan Witkoff.
Menurut diplomat dari kawasan Teluk Persia itu, yang berbicara dengan syarat anonim, delegasi Iran telah menyampaikan kepada Witkoff dalam perundingan tidak langsung bahwa Teheran mulai memperkaya uranium setelah Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 yang ditengahi pemerintahan mantan Presiden Barack Obama.
Setelah serangan, angkatan bersenjata Iran dilaporkan membalas dengan meluncurkan rentetan rudal dan drone ke wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan. Para pejabat Iran menyebut penargetan pangkalan militer AS sebagai “pembelaan diri yang sah.” Mereka merujuk Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menegaskan hak hukum Iran membela diri terhadap apa yang mereka sebut sebagai “tindakan agresi” oleh AS atau Israel.

