Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengamankan ketersediaan pangan dan menjaga stabilitas harga sebagai antisipasi dampak konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pasaman Barat, Ekadiana Oktavia, mengatakan dampak kenaikan harga pangan global mulai terasa di daerah tersebut, ditandai dengan naiknya harga sejumlah komoditas pangan.
Untuk menekan gejolak harga, pemerintah daerah menjalankan gerakan pangan murah di tingkat nagari atau desa. Program ini mencakup pangan subsidi dan non-subsidi. Pada kategori non-subsidi, komoditas yang disediakan antara lain beras dan minyak goreng. Sementara untuk pangan subsidi, disediakan beras, minyak goreng, cabai, bawang, telur, dan gula pasir.
Menurut Ekadiana, gerakan pangan murah menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar. Untuk beras, pemerintah daerah bekerja sama dengan Bulog, sedangkan komoditas lainnya diambil langsung dari petani sehingga harga dapat ditekan.
Sepanjang 2026, Dinas Ketahanan Pangan Pasaman Barat telah melaksanakan gerakan pangan murah sebanyak 38 kali, terdiri atas 30 kali untuk pangan non-subsidi dan delapan kali untuk pangan subsidi. Ke depan, pemerintah daerah merencanakan pelaksanaan 44 kali lagi gerakan serupa di sejumlah lokasi di Pasaman Barat.
Selain program tersebut, pemerintah daerah juga menjalin kerja sama dengan daerah produsen pangan, seperti Kabupaten Solok, untuk mendukung penyediaan cabai dan bawang merah. Pemantauan harga pangan dilakukan secara rutin, disertai rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah.
Ekadiana menyebut upaya itu mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Pasaman Barat pada Maret 2026 tercatat 2,74 persen, menurun dibandingkan Februari 2026 yang berada di angka 3,81 persen.
Di sisi harga, gula yang pada bulan sebelumnya Rp18.000 per kilogram naik menjadi Rp19.000 per kilogram. Minyak goreng kemasan juga meningkat dari Rp20.000 per kilogram menjadi Rp22.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur dan daging ayam masih berfluktuasi, dengan telur berkisar Rp52.000–Rp54.000 per tray dan daging ayam Rp28.000–Rp35.000 per kilogram.
Untuk komoditas cabai dan bawang, pemerintah daerah menyebut harga masih dalam batas aman, masing-masing berkisar Rp30.000–Rp40.000 per kilogram.