Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan terhenti menjelang dua bulan sejak konflik pecah pada 28 Februari. Dampaknya meluas ke pasar energi global, termasuk gangguan terhadap sekitar seperlima aliran minyak dunia yang oleh Badan Energi Internasional disebut sebagai guncangan pasokan terbesar dalam sejarah, sekaligus mendorong pemangkasan perkiraan pertumbuhan ekonomi global.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan kritiknya melalui unggahan media sosial. Ia menilai terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan dan menyatakan tidak ada pihak yang mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Trump juga menegaskan posisi AS dalam perundingan dan menyebut Iran dapat menghubungi jika ingin berbicara.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bertemu para mediator di Pakistan pada Sabtu dan meninggalkan Islamabad jauh sebelum kedatangan utusan AS yang direncanakan. Dalam unggahan media sosial, Araghchi menyatakan Iran “belum melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi.”
Araghchi kemudian berada di Oman pada Minggu untuk pembicaraan dengan Sultan Haitham bin Tariq sebelum kembali ke Islamabad, menurut kantor berita negara Iran, IRNA. Ia juga berbicara dengan menteri luar negeri Qatar dan Arab Saudi pada hari yang sama, serta berniat melanjutkan perjalanan ke Rusia setelah dari Pakistan, lapor IRNA.
Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, Araghchi akan menyampaikan syarat Iran untuk mengakhiri perang, termasuk kerangka hukum baru untuk Hormuz, pencabutan blokade, kompensasi atas kerusakan, dan jaminan terhadap tindakan militer lebih lanjut. Tasnim juga melaporkan Araghchi tidak akan membahas isu nuklir.
Di tengah kebuntuan diplomasi, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan pasukan AS mencegat sebuah kapal yang dikenai sanksi di Laut Arab pada Sabtu sebagai bagian dari blokade ekspor energi Iran. AS mengerahkan helikopter Angkatan Laut untuk mencegat kapal tersebut, yang kemudian mematuhi arahan militer AS untuk kembali ke Iran di bawah pengawalan. Centcom menyebut 37 kapal telah dialihkan sejak dimulainya blokade.
Iran, pada gilirannya, memberlakukan blokade Hormuz menggunakan “armada nyamuk” kapal perangnya. Transit harian disebut hampir nol, dibandingkan sekitar 135 sebelum konflik dimulai pada 28 Februari.
Tekanan terhadap pasokan energi tercermin pada pasar minyak. CEO Vitol Group, Russell Hardy, mengatakan pasar minyak menghadapi kerugian pasokan yang pasti sekitar satu miliar barel, sebagian karena waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali aliran setelah selat dibuka kembali. Harga minyak mentah acuan ditutup pada US$105,33 per barel pada Jumat, naik dari US$72,48 pada hari sebelum konflik dimulai. Di AS, harga bensin rata-rata sekitar US$4 per galon pada Jumat, dibandingkan sekitar US$3 pada akhir Februari.
Konflik juga memutus sekitar seperlima pasokan gas alam cair global. Harga acuan di Eropa kini disebut sekitar sepertiga lebih tinggi dibandingkan tingkat sebelum perang.
Sementara itu, ketegangan di kawasan turut meningkat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu memerintahkan militer Israel menyerang target Hizbullah di Lebanon. Pasukan Pertahanan Israel pada Minggu memerintahkan penduduk tujuh desa di Lebanon selatan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka. Israel kemudian menyerang beberapa wilayah, menurut Kantor Berita Nasional Lebanon yang dikelola pemerintah. Hizbullah, melalui unggahan di Telegram, menyatakan akan terus membalas serangan tersebut.
Trump sebelumnya mengumumkan pada 23 April bahwa Israel dan Lebanon akan memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu guna membuka jalan bagi negosiasi kesepakatan damai permanen. Gencatan senjata yang awalnya berlaku pada 17 April itu terjadi setelah hampir dua bulan pertempuran, yang dipicu oleh keputusan Hizbullah bergabung dalam pembalasan Teheran terhadap serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran dengan menargetkan komunitas di utara Israel. Pertempuran meningkat ketika Israel menginvasi Lebanon selatan untuk menciptakan apa yang disebut sebagai “zona keamanan.”
Netanyahu pada Minggu mengatakan Israel bertindak sesuai aturan yang telah disepakati dengan AS, dan disebutnya juga dengan Lebanon. Ia menegaskan kebebasan bertindak Israel tidak hanya untuk menanggapi serangan, tetapi juga untuk menggagalkan ancaman langsung dan menetralisir ancaman yang muncul.