PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menjalin kerja sama dengan perusahaan konsultan asal Korea Selatan, Greenery Inc., untuk memperkuat rantai pasok biomassa berkelanjutan sekaligus mendorong pengembangan riset karbon rendah. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya mencapai target penurunan emisi dan Net Zero Emissions 2060.
Direktur Bioenergi PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan biomassa dinilai strategis sebagai solusi transisi energi karena dapat langsung diterapkan dengan memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang sudah ada. Namun, ia menekankan keberhasilan pemanfaatan biomassa sangat bergantung pada kepastian pasokan dan tata kelola yang kuat.
“Bioenergi, khususnya biomassa, bukan sekadar bahan bakar pengganti, tetapi bagian dari strategi besar transisi energi. Karena itu, pasokan harus berkelanjutan, bernilai tambah, dan dikelola dengan tata kelola yang kuat,” kata Hokkop pada Sabtu (16/1/2026).
Kolaborasi ini ditujukan untuk mendukung program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Komitmen kedua pihak dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup pengembangan biomassa, riset teknis, peningkatan kualitas bahan bakar, hingga eksplorasi kerja sama internasional terkait penurunan emisi, termasuk peluang mekanisme karbon lintas negara.
Melalui MoU tersebut, PLN EPI dan Greenery juga sepakat mendorong pengembangan biomassa dan residu pertanian, melakukan riset teknis bersama, memperkuat rantai pasok yang berkelanjutan, serta meningkatkan kapasitas dan transfer pengetahuan. Kerja sama ini diharapkan mendukung pencapaian target cofiring PLN, sekaligus memberikan manfaat lingkungan dan sosial ekonomi yang dapat diukur.
Hokkop menambahkan, kemitraan dengan Greenery membuka peluang percepatan transfer teknologi dan pengembangan produk biomassa bernilai ekonomi. Ia menilai residu pertanian dan produk antara tidak seharusnya diperlakukan sebagai limbah semata.
“Produk seperti biomassa dan turunannya harus dikapitalisasi menjadi produk bernilai tambah, tidak hanya untuk energi, tetapi juga untuk pangan dan industri bioenergi. Ini sejalan dengan kebutuhan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” ujarnya.
Dari sisi riset, Leader of Research Group for Industrial Sustainability & Product Optimization BRIN, Dudi Iskandar, menekankan pentingnya kolaborasi agar riset karbon rendah dapat diimplementasikan dan tidak berhenti di laboratorium. Menurutnya, riset yang dilakukan mencakup pengembangan teknologi karbon rendah, kajian ekonomi karbon, serta sistem pengukuran emisi yang terukur untuk mendukung kebijakan pemerintah.
“Sebagai organisasi riset, tugas utama kami adalah menghasilkan inovasi yang bisa diimplementasikan. Tanpa kolaborasi dengan PLN EPI, mitra internasional, dan universitas, riset tidak akan memberi dampak nyata,” kata Dudi. Ia menambahkan riset tersebut diharapkan membantu pemerintah memahami strategi pengurangan emisi yang terukur sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi dari pengelolaan karbon.
Company Representative Greenery Inc., Seijin Kim, menyatakan pengembangan bioenergi di Indonesia menjadi proyek pertama perusahaan itu di Tanah Air, di tengah portofolio proyek serupa yang telah dijalankan di sejumlah negara lain. Ia menilai Indonesia memiliki momentum untuk menjadi model kolaborasi bioenergi dan transisi energi.
“Indonesia memiliki momentum yang sangat tepat untuk menjadi model kolaborasi bioenergi dan transisi energi. Proyek ini tidak hanya soal energi, tetapi juga kesehatan, pembangunan komunitas, dan pencapaian target iklim global,” ujar Kim.
Kim menyebut penelitian awal ditargetkan rampung pada awal Januari 2026 dan akan dilanjutkan dengan riset utama pada tahun berikutnya, seiring kesiapan teknologi dan sistem pendukung. Ia juga menyatakan optimisme bahwa kolaborasi ini dapat menjadi model kerja sama Indonesia–Korea di sektor bioenergi.
Sementara itu, Chairman PT Internasional Digital Sustainability Consulting, Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin, menilai integrasi lintas sektor menjadi kekuatan utama dari model yang dikembangkan melalui kerja sama tersebut. Ia menyebut pendekatan ini menggabungkan sektor energi, industri, dan pembangunan wilayah, serta membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu model pengembangan bioenergi dan ekonomi karbon di tingkat global.

