Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh bangsa dalam agenda Silaturahmi dan Diskusi Para Tokoh Bangsa di Istana Negara, Jakarta. Pertemuan ini membahas kesiapan Indonesia dalam menghadapi dampak eskalasi konflik global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Forum tersebut mempertemukan pemimpin lintas generasi, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.
Sejumlah mantan Menteri Luar Negeri juga hadir, yakni Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa, dan Alwi Shihab. Pertemuan turut dihadiri pimpinan lembaga tinggi negara, jajaran menteri, kepala badan, serta para ketua umum partai politik.
Dalam diskusi, perhatian utama diarahkan pada kesiapan dan kesiagaan Indonesia untuk mengantisipasi dampak konflik global terhadap stabilitas nasional. Situasi internasional yang dinilai tidak menentu disebut berpotensi memengaruhi sektor ekonomi, keamanan, hingga stabilitas sosial di dalam negeri.
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menekankan pentingnya manajemen krisis yang terukur dan antisipatif. PKS menilai dampak konflik global tidak hanya terkait geopolitik, tetapi juga berpotensi menekan ekonomi nasional, termasuk melalui kenaikan harga energi dan pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat.
Karena itu, PKS menilai pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan pokok, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat cadangan energi nasional. PKS juga menyoroti perlunya komunikasi publik yang jernih, transparan, dan meyakinkan guna menghadirkan rasa aman secara psikologis di tengah masyarakat.
Selain itu, PKS menyatakan dukungan kepada Presiden Prabowo agar terus merangkul berbagai elemen bangsa—mulai dari elite politik, pelaku ekonomi, hingga tokoh keagamaan—untuk membuka ruang dialog yang konstruktif. Pendekatan kolektif dinilai penting dalam merespons tantangan global yang kompleks dan dinamis.
“Di tengah ketidakpastian global, persatuan dan kebijaksanaan bersama adalah kekuatan utama bangsa Indonesia,” tegas Presiden PKS.

